Thursday, September 27, 2007

Beritakan Kristus Saja, Hai Orang Percaya!

Kolose 1:24-2:6

Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita (Kol. 2:6). Siapakah Yesus Kristus? Saya percaya saat ini saudara sudah ancang-ancang menjawab pertanyaan di atas sebagai bukti bahwa saudara sungguh sudah menerima-Nya—atau takut malu, “masak orang Kristen tidak kenal Tuhannya?”
Pengetahuan dan pemahaman kita tentang Yesus Kristus sampai kita dapat menerima-Nya bukanlah sebuah usaha manusia. Paulus menunjukkan bahwa kita dapat mengenal-Nya sampai kepada menerima-Nya disebabkan oleh telah terbukanya rahasia ilahi yang tersembunyi berabad-abad lamanya (Kol. 1:26-27)—dengan kata lain, bayangan Kristus di PL terbuka sudah di PB (silahkan saudara membaca Injil Matius yang keseluruhan berita-Nya mengarah kepada Yesus sebagai penggenapan PL).
Allah perlu sekali untuk menyatakan rahasia ini agar manusia dapat diselamatkan. Tanpa Allah menyatakan diri-Nya, manusia tidak dapat mengenal Dia. Tanpa manusia mengenal-Nya maka manusia tidak dapat menerima-Nya. Masalahnya adalah bagaimana manusia dapat mengenal-Nya kalau tidak ada yang memberitakan-Nya (Rm. 10:14-15)? Problem inilah yang diusahakan Paulus dengan segala tenaga sesuai dengan kuasa yang diberikan kepadanya sehingga dalam segala ajaran dan nasihatnya, Kristuslah yang selalu diberitakan (Kol. 1:28-29)—bukan diri Paulus, apalagi diri kita. Kita harus membawa semua orang kepada Kristus karena ia sempurna, sedangkan keangkuhan kita hanya akan menjerumuskan sesama kita.
Kita yang sudah mengenal Yesus dan menerima-Nya harus berlaku seperti Paulus yang memberitakan tentang Kristus. Bagaimana caranya? Dengan seluruh hidup kita—ajaran, perkataan, perbuatan, pikiran, dll. Paulus mengingatkan kita untuk mewaspadai diri kita dan ajaran kita (1Tim 4:16). Di hadapan siapa? Di hadapan anak, cucu, teman, karyawan, suami, istri, dan orang-orang lain di sekeliling kita.

“Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu . . .”

Monday, September 17, 2007

John Stott—Kristus yang Tiada Tara (The Incomparable Christ)

Membaca buku ini memperlengkapi pemahaman saya akan penggambaran Kristus yang tiada tara dalam sepanjang perjalanan-Nya di dunia yang “sakit” ini. Buku ini membekali saya dalam menghadapi pandangan-pandangan “Kristen” yang akhir-akhir ini berusaha mengkerdilkan iman kekristenan dan mencoba mengobrak-abrik keagungan Kristus yang tiada taranya ini.
Prinsip “Jesus Seminar” yang meragukan keotentisitasan perkataan Yesus di Injil sangat-sangat subjektif sifatnya. Demikian pula bagaimana sejarah membuktikan akan Gereja yang memaparkan Kristus (cth. Monastisisme, Mistisisme), telah menjadikan Yesus sebagai “Yesus yang lain” yang hanya dipakai sebagai pendukung konteks pergumulan gereja, atau dengan kata lain mendompleng Kemahaan Kristus. Meskipun pemaparan Gereja tidak sefatal “Jesus Seminar”—masih ada hal positif yang bisa didapat—tetap saja menjadikan Kristus tidak tiada taranya lagi.
John Stott dengan penuh hati-hati dan percaya diri mengungkapkan Kristus yang tiada taranya ini dengan mengawalinya dari pemahaman PB itu sendiri yang meninggikan dan mengagungkan Kristus. Pemaparannya yang sangat apik pada bab kedua karena meng-compact isi dari PB bukan sesuatu yang mudah, tetapi Stott telah berhasil melakukannya sehingga memberikan suatu worldview penafsiran yang bertanggung jawab. Pada bab keempat bukunya ini, Stott memilih kitab Wahyu untuk dipaparkan lebih banyak daripada lainnya. Mengapa demikian?
Pertama, kitab Wahyu adalah tulisan yang bersifat apokaliptis. Karena masuk ke dalam genre sastra yang khusus, maka perlu sekali kitab ini ditangani secara khusus pula.
Kedua, Kita ini berisi suatu galeri gambaran-gambaran tentang Tuhan Yesus Kristus. Untuk setiap kitab PB lainnya, kita bisa mengisolasi penekanan khususnya. Setiap kitab Injil dan setiap surat memiliki temanya yang khusus. Namun tidak demikian halnya dengan Kitab Wahyu, yang berisi berbagai gambaran tentang Kristus. Kitab ini memaparkan Dia sebagai Yang Awal dan Yang Akhir, Anak Domba dan Singa, pencuri pada waktu malam, Raja di atas segala raja, Hakim Ilahi, dan Mempelai Laki-laki Sorgawi. Metafora ini dan yang lain mengalir dari pemikiran Yohanes yang subur. Kita harus menilai dengan adil galeri gambaran-gambaran ini.
Ketiga, Kitab Wahyu merupakan klimaks dari PB. Tanpa memperdulikan waktu penulisan dokumen-dokumen PB, gereja sudah bertindak bijaksana dengan mengurutkan kanon PB sedemikian rupa sehingga dimulai dengan kisah tentang Yesus (keempat kitab Injil) dan kisah tentang gereja mula-mula (Kisah Para Rasul); berlanjut dengan 22 surat pengajaran rasuli tentang iman, kehidupan, dan pengharapan Kristen; dan berakhir dengan Kitab Wahyu yang membawa kekekalan mendekat.
Pada bab kesimpulan, Stott menyadari bahwa dirinya tidak layak sebenarnya untuk menyatakan kritik-kritik yang negatif kepada pemaparan gereja tentang Kristus; dengan beranggapan bahwa dirinyalah yang lebih baik. Dirinya dapat jatuh ke dalam kesombongan yang tak tertahankan jika saja bukan Allah yang dengan penuh kemurahan memberikan kepada kita dalam Kitab Suci suatu kriteria yang dengannya kita menilai semua gerakan dan tradisi manusia.
Karena itu, tidak heran di dalam akhir dari tulisannya, Stott memberikan sebuah kisah yang diambil dari almarhum Donald Coggan, mantan uskup agung Canterbury (sekalipun dia tidak bisa mengingat siapa penulisnya yang asli):

Ada seorang pemahat yang pernah, begitu kata mereka, memahat sebuah patung Tuhan kita. Dan orang banyak datang dari tempat-tempat yang jauh untuk melihatnya—Kristus dengan segala kekuatan dan kelemahlembutan-Nya. Mereka mau berjalan berkeliling patung tersebut, berusaha menangkap keindahannya, menatapnya di sini dan dari sudut ini, di sana dari sudut sana. Namun tetap keagungannya tidak tertangkap oleh mereka, sampai mereka mengonsultasikan kepada si pemahat sendiri. Dia akan tetap menjawab, “Hanya ada satu sudut yang darinya keindahan patung ini benar-benar bisa dinikmati. Anda harus berlutut.”

Penerbit Momentum—262 hlm.

Melihat Kristus dengan rendah hati

Ada seorang pemahat yang pernah, begitu kata mereka, memahat sebuah patung Tuhan kita. Dan orang banyak datang dari tempat-tempat yang jauh untuk melihatnya—Kristus dengan segala kekuatan dan kelemahlembutan-Nya. Mereka mau berjalan berkeliling patung tersebut, berusaha menangkap keindahannya, menatapnya di sini dan dari sudut ini, di sana dari sudut sana. Namun tetap keagungannya tidak tertangkap oleh mereka, sampai mereka mengonsultasikan kepada si pemahat sendiri. Dia akan tetap menjawab, “Hanya ada satu sudut yang darinya keindahan patung ini benar-benar bisa dinikmati. Anda harus berlutut.”

Disampaikan oleh almarhum Donald Coggan, mantan uskup agung Canterbury (sekalipun dia tidak bisa mengingat siapa penulisnya yang asli)—dikutip dari John Stott, Kristus yang Tiada Tara

Tantangan Zaman Anak Sekolah Minggu dan Komunikasi

Tidak dapat disangkali dan dihindarkan, anak SM berada di tengah-tengah dunia yang semakin pintar dan canggih dalam mengembangkan dosa, seperti domba di tengah-tengah serigala. Karena itu, tidak heran anak-anak SM pun terjerumus ke dalam konsep berpikir, kebiasaan, budaya, atau apapun juga yang ditawarkan oleh dunia.
Generasi masa sekarang adalah generasi Net Generation atau N-Geners. Generasi ini adalah generasi yang lahir pada periode 1977-1997. Berarti anak-anak SM yang kita layani termasuk di dalam N-Geners. Dari namanya saja kita sudah tahu bahwa generasi ini sangat akrab dengan komputer, namun tidak hanya sekadar komputer tetapi masuk ke dalam dunia maya/virtual seperti televisi, game, internet, dan kecanggihan teknologi lainnya. Adapun tantangan zaman yang membentuk karakteristik anak SM adalah:

1. Individual—komunitas—individual.
Pertama, anak berkarakteristik sangat individual sekali melalui dunia maya yang mereka mainkan. Mereka senang bermain sendirian tanpa diganggu oleh siapapun dan apapun. Tidak ada teman tidak apa-apa. Kalaupun mereka berkomunitas hanya sebatas pembicaraan dunia maya mereka atau sebagai ajang pamer kebolehan. Ujung-ujungnya berkomunitas adalah individual lagi.

- Game. Menurut para Psikolog, game dapat merusak konsentrasi belajar. Hiburan berganti menjadi keharusan. Emosi anak tidak stabil/impulsif, mis: kalau televisi dimatikan mereka bisa mengamuk. Cenderung malas bergaul dengan teman-temannya. Sering terlibat konflik dengan sekitarnya, cth kasus: Anak SMP pernah menusuk kawan sekelasnya untuk menyudahi pertengkaran yang ternyata anak SMP ini gemar bermain game peperangan. Karena itu anak-anak SM kita bisa tidak memiliki kerinduan akan Hikmat dan teguran seperti yang yang dirindukan firman Tuhan dalam kitab Amsal. Namun ada hal positif yang diduga berasal dari game yaitu anak-anak dilatih pikirannya menjadi imajinatif, kreatif dan inovatif. Kemudian anak akan memiliki rasa kepahlawanan untuk membela kebenaran. Ada seorang ibu yang bahkan menganggap game baik untuk anaknya karena dapat melatih anaknya memiliki tangan yang terampil ketika memencet tombol dengan harapan anak ini akan mahir ketika menjadi dokter bedah.
- Internet. Bahaya pada internet adalah pornografi. Anak-anak sekarang mengalami masa pubertas yang cepat. Mungkin pada usia 12-13 tahun sudah mengalami menstruasi atau mimpi basah. Sedangkan rata-rata orang yang menikah sekarang sekitar 27-30 tahun karena faktor karier atau trauma melihat perceraian atau kebutuhan ekonomi yang tinggi. Jadi ada jarak yang jauh sekitar 18 tahunan untuk anak-anak menahan gejolak seksnya sebelum masuk ke dalam pernikahan yang kudus. Jarak yang jauh ini sangat rentan untuk dipengaruhi oleh sarana-sarana dosa seperti internet atau 3G (pornografi). Karena itu anak-anak SM kita sangat rentan dengan pencobaan seksual. Sebenarnya bila digunakan dengan baik, internet sangat mendukung di dalam ilmu pengetahuan atau komunikasi.
- Televisi. Bahaya pada televisi adalah penekanan kepada penampilan lahiriah. Baik film atau iklan akan menawarkan kehidupan lahiriah yang sempurna sehingga anak-anak akan takut gemuk, takut bodoh, dan takut miskin (seringkali justru orangtua yang menjadikan anak-anak seperti demikian). Gemuk identik dengan tidak cantik dan tidak menarik. Cantik berarti langsing (jarang sekali iklan atau film memakai peran utamanya seseorang yang gemuk). Mereka juga takut bodoh sebab nilai-nilai di sekitar mereka mengondisikan untuk melombakan prestasi akademik mereka. Karena itu sejak kecil mereka diarahkan masuk ke sekolah favorit agar mereka dapat menjadi anak favorit. Kemudian anak-anak juga takut miskin karena kalau miskin berarti mereka tidak dapat membeli barang-barang mereka bermutu untuk dapat meningkatkan harga diri. Intinya adalah mereka selalu ingin menjadi pusat perhatian di manapun mereka berada. Semua harus fokus kepada dirinya dan menyanjung-nyanjung keberadaan dirinya—ini baru namanya hidup. Kalau hidupnya tidak serba wow sehingga tidak menjadi pusat perhatian maka hidup ini terasa bosan dan tidak ada lagi gunanya untuk hidup. Secara teologis ini dinamakan “tidak adanya perspektif eskatologi” bagi mereka. Kesuksesan adalah hari ini, kekekalan hanyalah imajinasi atau sesuatu yang jauh. Padahal Tuhan Yesus berkata di dalam Matius 6:19-21 berkata, "Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”

Mengapa kehidupan maya/virtual menarik?
Kalau kita perhatikan baik game, TV, dan internet menawarkan gambar yang menarik perhatian anak-anak dari sejak mereka membukanya sampai mereka mengakhirinya. Mereka sangat menikmati warna-warna dan tantangan yang ada. Saya pernah ditest untuk teman saya yang ada di Psikologi. Saya diminta melihat di layar kaca 2 tombol berwarna merah dan hijau. Bila salah satu tombol menyala maka tangan saya pun harus memencet tombol sesuai warnanya. Itu mudah tetapi makin lama makin sulit karena di sekeliling layar kaca mulai dinyalakan lampu yang berwarna-warni. Ini menunjukkan betapa konsentrasi dapat buyar karena pengaruh warna. Makanya mengapa di Timezone/Gamezone mesin-mesin permainan di pasang banyak sekali lampu yang berwarna-warni karena bertujuan membuyarkan konsentrasi anak ketika bermain dan mereka akan kalah dan penasaran dan akan main lagi. Sekarang masalahnya adalah bagaimana ketika kita mengajar anak-anak kalau anak-anak sudah terbiasa dengan visualisasi yang menarik bagi mereka, sedangkan kita masih mengajar dengan gambar flanel yang tidak bergerak atau bahkan tidak menggunakan alat visual apapun dan hanya mengandalkan suara kita? Mengapa kita tidak mulai memikirkan mengajar dengan menggunakan sarana powerpoint/film untuk menarik perhatian mereka? Atau bukankah seharusnya kita mengkreatifkan diri kita dengan metode-metode cerita yang baru? Karena itu penting sekali pelayanan anak-anak SM memiliki team yang kuat, solid, serius mengikuti perkembangan zaman, kreatif dan peduli dengan pelayanan anak. Tidak harus anak-anak muda melainkan orang yang sudah tua dapat memberi batasan yang kuat agar tidak malah kebablasan tanpa saringan. Kalau kita tidak segera serius memperbaiki pelayanan kita maka kita akan kalah telak dari dunia.

2. Figur pembina rohani yang langka.
Anak-anak SM kekurangan figur idealisme baik di rumah, masyarakat, sekolah, maupun di gereja. Sebagian besar anak-anak sekarang tumbuh dengan orangtua yang penuh dengan pertengkaran, permusuhan, bahkan perceraian. Mereka harus hidup dengan orangtua tunggal sehingga ada banyak yang kehilangan figur ayah atau ibu. Masyarakat di sekitar hidup dengan kekerasan, korupsi dan ketidakadilan. Guru-guru di sekolah juga sudah jarang sekali mengajarkan nilai-nilai kebenaran, hanya sebatas kognitif saja. Sedangkan sudah jarang sekali hamba-hamba Tuhan dan guru-guru SM yang hidup di dalam kekudusan dan pengabdian sebagai pelayan-pelayan anak-anak ini. Karena itu, generasi Net menjadi skeptis dan pesimis ketika melihat keadaan orang-orang disekelilingnya yang tidak berusaha memahami kebutuhan maupun pergumulan anak-anak pada zaman ini. Seringkali anak-anak harus menerima perlakuan yang keras atau disiplin yang ketat dari pembina-pembina rohaninya yang justru akan menjadi bumerang dengan pemberontakan mereka.

Apa tindakan kita sebagai guru-guru SM? Komunikasi yang bagaimana yang seharusnya kita kerjakan?

Komunikasi biasanya memang identik dengan verbal atau kata-kata. Namun pada zaman sekarang kita tidak cukup dengan komunikasi kata, melainkan komunikasi pikiran, komunikasi hati, komunikasi perbuatan.

1. Komunikasi kata.
Jangan menggunakan kata-kata konfrontasi yang kasar dan memancing amarah ataupun dengan ucapan siapa yang berkuasa. Apabila kita mencecar anak-anak dengan peluru kata-kata maka ada 2 kemungkinan yang terjadi: ia akan lari ke tempat persembunyiannya dan melampiaskan amarahnya atau kemungkinan kedua, ia akan balas menyerang saudara.

- Selesaikan dulu urusan saudara sebelum saudara menyelesaikan urusan dengan anak-anak SM saudara. Biasanya kita yang dalam keadaan sibuk, capek dalam pelayanan mudah sekali untuk melampiaskan emosi kepada anak-anak karena merasa anak-anak tidak berani menantang atau membalas kita. Keluarkanlah dulu balok di mata kita, barulah kita mengeluarkan selumbar/serpihan kayu di mata anak-anak SM kita (Mat. 7:3-5).
- Setelah saudara mempersiapkan diri (berdoa terlebih dahulu), berbicaralah dengan anak SM saudara di tempat yang tepat dan waktu yang tepat (saya biasanya melakukannya ketika setelah belajar atau kerumahnya. Di remaja yang saya pernah alami atau sekali-sekali di tempat ini, saya sering menggunakan kesempatan bertemu di hari senggang untuk ngobrol, atau bisa juga saya ajak pergi makan dan di sanalah saya berbicara menanyakan perihal pergumulan di dalam dirinya). Jangan menegur mereka di tempat umum/di depan teman-temannya karena hal tersebut hanya akan membuat dirinya malu. Ambillah waktu khusus maka secara tidak langsung saudara hendak mengatakan, “Kamu sangat berarti bagi saya.” Memberikan hikmat kepada anak-anak bukan dengan cara memukul anak-anak dengan kata-kata melainkan Amsal 1:8-9 berkata, “Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu, sebab karangan bunga yang indah itu bagi kepalamu, dan suatu kalung bagi lehermu.” Seperti memberikan harta yang termahal baginya. Kita harus menghindarkan dari mencari tahu siapa yang benar atau siapa yang salah. Di dalam buku Masa Penuh Kesempatan yang ditulis oleh Paul David Tripp, dia mengemukakan tiga cara untuk menolong kita ketika kita menghadapi anak-anak (remaja) yang bersikap defensif:

a. Menjelaskan makna dari tindakan kita. Kita bisa katakan, “Jangan salah paham, om/tante tidak menuduhmu. Om/tante sangat mengasihimu dan karena kasih itu, om/tante ingin melakukan apa saja yang bisa om/tante lakukan untuk menolongmu. Kalau ada hal yang ingin kau sampaikan sama om/tante, kamu bisa tolong beritahukan dengan hormat kepada om/tante.”
b. Kita harus menolong mereka meneliti sikap defensif mereka sendiri. Menurut Tripp, anak-anak menderita kebutaan spiritual sehingga perlu untuk dibimbing melihat keadaan spiritual mereka sendiri. Kita dapat katakan, “Tahukah kamu ada banyak kegelisahan atau kekacauan di ruangan ini. Bukankah om/tante tidak membentakmu, menyakitimu, atau menuduhmu? Tetapi sepertinya kamu tidak suka dengan om/tante. Mengapa kamu marah atau tidak suka sama om/tante? Dapatkah kamu jelaskan kepada om/tante?”
c. Berusaha jujur dengan cara mengaku dosa-dosa yang telah kita lakukan kepada anak-anak kita. Kadang tanpa sadar kita sudah melukai hati mereka dengan kata-kata kita yang kasar, membentak, atau mungkin memukul. Kita harus akui kesalahan kita kepada anak-anak kita dan tunjukkan juga pengakuan itu kepada Tuhan agar anak-anak dapat menyadari dosa mereka juga di hadapan Tuhan dan kita.

2. Komunikasi pikiran.
Bawa mereka di dalam pengenalan akan diri mereka sendiri. Ajukan pertanyaan yang membutuhkan deskripsi, penjelasan, dan pengungkapan diri. Jangan puas hanya dengan jawaban ya atau tidak saja. Anak-anak biasanya suka bercerita (mulai berkurang pada zaman ini), jadi manfaatkan kebiasaan mereka ini dengan mendengarkan keluhan mereka. Pancing mereka mengungkapkan segala gundah gulana mereka. Mengapa? Karena biasanya anak-anak yang “bermasalah” di SM memiliki masalah pula di rumah. Jadi dengan mengetahui isi pikiran mereka, maka kita kira-kira dapat mengira bagaimana kehidupan keluarga mereka di rumah, bagaimana perlakuan yang mereka dapatkan dari orangtua mereka. Anak-anak memang akan sulit sekali mengungkapkan pemikiran mereka karena pikiran mereka masih abstrak dan belum tersusun rapi, terlebih lagi mereka sudah “malas” berpikir keras kalau hal itu tidak menantang mereka (seperti permainan game yang mereka mainkan).


3. Komunikasi hati.
Apakah kita pernah mengajak anak-anak didik kita masuk ke dalam pembicaraan yang dalam? Misalnya membicarakan tentang Tuhan Yesus secara pribadi kepada mereka? Biasanya pengajaran di kelas sangat menyulitkan kita untuk menembus hati setiap anak karena pengajaran yang kita ajarkan bersifat umum dan bisa saja ditanggapi dengan berbeda-beda oleh setiap anak. Penting sekali kita kembali mengajarkan secara pribadi kepada setiap anak agar kita dapat lebih memperkenalkan kepada anak-anak mengenai Yesus.

4. Komunikasi perbuatan.
Tunjukkan kasih kita dengan perbuatan! Saya menyarankan kita untuk melakukan perkunjungan agar anak-anak dapat merasa lebih dekat dan diperhatikan (imbasnya nanti juga ke orangtua yang melihat keseriusan kita dalam melayani anak-anak mereka). Anak-anak mungkin tidak dapat mengekspresikan sukacita mereka ketika melihat kita datang mengunjungi mereka atau dalam tingkah laku kita yang menunjukkan kasih kepada mereka, namun percayalah, setiap gerak gerik kita akan diamati oleh anak-anak kita, sadar atau tidak sadar. Anak-anak adalah mesin foto copy yang paling canggih di seluruh dunia. Di dalam zaman di mana mereka sudah kehilangan figur rohani yang ideal, maka penting sekali kita menumbuhkembangkan kembali figur yang ideal di dalam diri kita, agar mereka tidak mencari figur di luar kekristenan. Ajarkan mereka untuk melakukan firman Tuhan seperti kita!

Saya menutup Riung Mumpulung ini dengan puisi doa yang ditulis oleh Leslie Pinckney Hill yang melukiskan pergumulan rohani pembina kerohanian anak.

Guru
Tuhan, siapakah aku ini sehingga boleh mengajarkan jalan-Mu
hari lepas hari kepada anak-anak-Mu?
Bukankah aku pun rawan tersesat?

Aku mengajarkan mereka pengetahuan,
namun aku menyadari
betapa kecilnya cahaya lilin pengetahuanku.

Aku mengajarkan mereka kuasa,
untuk berkehendak dan berbuat
tetapi sekarang barulah aku melihat
kelemahan demi kelemahanku.

Aku mengajarkan mereka untuk mengasihi
semua manusia dan semua ciptaan Tuhan
namun aku menyadari
bahwa kasihku masih jauh dari cukup.

Tuhan, jika aku harus tetap menjadi
pemandu bagi mereka
Oh, biarlah anak-anak kecil itu melihat
bahwa guru mereka bersandar erat-erat kepada Engkau.


Riung Mumpulung Guru Sekolah Minggu, 29 Juli 2007

Friday, September 14, 2007

THE GLORY OF GOD

O God, we thank you for this universe, our great home; for its vastness and its riches, and for the manifoldness of the life which teems upon it and of which we are a part. We praise you for the arching sky and the blessed winds, for the driving clouds and the constellation on high. We praise you for the salt sea and the running water, for the everlasting hills, for the trees, and for the grass under our feet. We thank you for our senses by which we can see the splendor of the morning and hear the jubilant songs of love, and smell the breath of the springtime. Grant us, we pray you, a heart wide open to all joy and beauty, and save our souls from being so steeped in care or so darkened by passion that we pass heedless and unseeing when even the thornbush by the wayside is aflame with the glory of God.
(Walter Rauschenbusch)

Khotbahkan Selalu Berita Injil Di dalam Hati Kita!

2 Korintus 5:11-21

Apakah kita masih semangat mendengar berita Injil? Untuk hari ini mungkin iya, apalagi ketika kita selesai memperingati kematian Tuhan Yesus. Tetapi bagaimana untuk setahun ke depan atau seumur hidup kita, apakah berita Injil masih menjadi bagian terbesar yang akan sering kita khotbahkan di dalam hati kita? Ada banyak orang Kristen yang selama hidupnya merasa cukup mendengar berita Injil satu kali saja yaitu ketika pertama kali percaya kepada Tuhan Yesus. Namun setelah itu, berita Injil menjadi hambar rasanya, padahal berita Injil adalah dasar yang kokoh bagi iman kita.
Paulus sendiri tidak bosan-bosannya memproklamasikan berita Injil. Berita Injil di dalam pemberitaan Paulus adalah pendamaian manusia dengan Allah. Pendamaian ini dapat terjadi hanya karena Allah yang berinisiatif dan aktif mendamaikan diri-Nya dengan manusia yang berdosa melalui pengorbanan Anak-Nya, Yesus Kristus (ay. 18-19). Manusia tidak memiliki andil apa pun karena manusia telah kehilangan kemuliaan Allah, sehingga apa pun yang manusia inginkan hanyalah dosa. Tuhan Yesus yang mati di atas kayu salib telah meredakan, atau dengan kata lain, memuaskan murka Allah, sehingga manusia dapat dilayakkan hidup di hadirat Allah. Ketika Yesus dikatakan mendamaikan kita dengan Allah maka ada dua kondisi yang bersamaan terjadi di dalam diri kita:
1. Kita terbebas dari dosa (ay. 17). Semua dosa-dosa kita telah dihapuskan dengan darah Yesus yang teramat mahal. Namun tidak cukup di situ,
2. Kita dibenarkan di hadapan Allah (ay. 21). Kita seperti seorang penjahat yang siap dijatuhi hukuman mati oleh hakim, tetapi justru kita dibebaskan dari segala hukuman; luar biasanya lagi, kita diangkat menjadi anak-Nya.
Bukankah ini berita luar biasa ketika kita yang seharusnya binasa tetapi diselamatkan? Mari kita selalu khotbahkan berita Injil ini di dalam hati kita, sehingga kita dengan rendah hati selalu hidup di dalam kasih karunia-Nya. Sehingga pula bukan karena gagah dan perkasa kita hidup di dunia, melainkan semata-mata karena anugerah-Nya. Marilah kita tidak lagi hidup untuk diri kita sendiri, melainkan untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk kita (ay. 15).

Jadikan berita Injil makananmu setiap hari!

Wednesday, September 5, 2007

Kerinduan hidup kudus

Ezra 10:1-14

Di dalam kalimat “saya orang kudus,” ada dua pengertian yang berbeda di dalamnya, yaitu: (1) lahir di kota Kudus (Jawa Tengah), dan (2) hidup di dalam Tuhan. Namun, ada satu persamaan yang tidak dapat dihindari, yaitu menjadi orang kudus—baik lahir atau di dalam Tuhan—bukan sebuah pilihan, melainkan sebuah keharusan yang harus dijalani. Seseorang tidak mungkin memilih untuk tidak dilahirkan di kota Kudus. Demikian pula, seseorang yang sudah hidup di dalam Tuhan, tidak dapat memilih untuk tetap di dalam dosa, melainkan harus memiliki kerinduan untuk hidup di dalam kekudusan, yaitu memisahkan diri dari dosa-dosa. Apakah saudara memiliki kerinduan untuk hidup di dalam kekudusan. Saudara dapat memeriksanya melalui tiga hal berikut:
Pertama, adanya pengakuan dosa (ay. 2). Bangsa Israel mengakui dosanya yang sudah melakukan perkawinan campur dengan bangsa lain. Perkawinan campur ini sangat dilarang Tuhan karena bangsa lain akan mempengaruhi bangsa Israel untuk hidup di dalam penyembahan berhala (lihat kisah raja Ahab dalam 1 Raja-Raja 16:29-33). Tahap awal untuk hidup dalam kekudusan adalah mengakui dosa kita di hadapan Tuhan.
Kedua, adanya dukungan terhadap sebuah tindakan (ay. 4). Bangsa Israel memberikan dukungan kepada nabi Ezra untuk bangkit, kuat, dan bertindak melakukan pemurnian. Ketiga kata kerja ini sulit dikerjakan tanpa ada dukungan yang nyata. Demikian pula, kita seringkali sulit untuk berjuang melawan dosa sendirian. Kita membutuhkan orang-orang di sekitar kita untuk menolong kita dan mendoakan kita. Mari kita bergandengan tangan sebagai tubuh Kristus, menopang satu dengan yang lainnya di dalam mengejar kekudusan.
Ketiga, adanya tekad untuk menuruti perintah Tuhan (ay. 3, 12-14). Seruan tekad bangsa Israel di hadapan Allah merupakan sebuah pembaharuan iman dan komitmen setelah berkali-kali mengecewakan hati Tuhan. Alangkah indahnya setiap kita yang berjanji di hadapan Tuhan untuk hidup kudus tidak sekedar mengucapkan janji-janji manis, melainkan melakukannya di dalam hidup kita.
Mari kita memeriksa diri kita di hadapan Tuhan! Kiranya anugerah Allah memampukan kita menjalani hidup yang kudus di hadapan-Nya.

Hidup dalam kekudusan adalah sebuah keharusan, bukan pilihan.