Friday, October 10, 2008

Naik pesawat dan saat teduh


“Penumpang yang kami hormati, demi keselamatan anda, kami akan memperagakan prosedur keselamatan penerbangan. Pertama-tama kami akan memperagakan bagaimana caranya memakai sabuk pengaman . . .”

Saudara pasti akan mendengar perkataan ini ketika berada di dalam pesawat yang akan terbang. Informasi keselamatan penerbangan di atas sangat penting sekali jika sewaktu-waktu terjadi masalah kepada pesawat yang kita tumpangi. Tetapi saya mengamati seringkali hampir semua penumpang di dalam pesawat (termasuk diri saya sendiri) mengabaikan para pramugari yang sedang memperagakan prosedur keselamatan. Ada yang langsung tidur, ada yang melamun memikirkan apakah pesawat ini sudah cukup aman, ada yang baca koran, ada yang berbicara dengan temannya, dll. Intinya, hampir semua orang mengabaikan informasi penting mengenai prosedur keselamatan. Beberapa alasan yang bisa saya pikirkan adalah: (1) sudah terlalu sering naik pesawat sehingga sudah hafal, (2) informasinya membosankan karena tidak ada hal baru, dan (3) sudah yakin masuk surga.

Pengamatan di atas sebenarnya tidak jauh berbeda dengan keadaan Saat teduh (berdoa dan membaca firman Tuhan) kita setiap hari. Seringkali karena sudah membosankan, menjadi sebuah rutinitas atau sudah yakin masuk surga sebagai orang pilihan Tuhan, kita malas melakukan saat teduh. Kalaupun kita melakukannya hanya sebatas rutinitas, tidak lagi ada gairah dan sukacita di dalamnya, padahal saat teduh adalah saat di mana kita berkomunikasi dengan Allah dan mengerti kehendak-Nya bagi hidup kita.

Di dalam saat teduh, kita berdoa kepada Tuhan mencurahkan seluruh isi hati kita dan membiarkan Tuhan mencurahkan isi hati-Nya kepada kita melalui firman-Nya. Saat teduh ini sangat penting sekali di dalam hidup kita karena ketika sewaktu-waktu kita dilanda masalah atau pergumulan, kita akan diingatkan, dihiburkan, dan dikuatkan oleh Tuhan. 1 Timotius 4:8 berkata, “Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah (saat teduh termasuk di dalamnya) itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.” Mari mulai bersaat teduh karena “pesawat” hidup kita bisa kapan saja di dalam keadaan darurat!

Monday, October 6, 2008

WITH ALL MY MIND

Ulangan 6:4-5 dan Markus 12:28-30

Salah satu pengajaran Perjanjian Lama yang paling mendalam berbunyi, “Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu Esa! Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu” (Ul. 6:4-5).

Ajaran ini dikutip Yesus sebagai perintah yang terutama. yang terutama di sini harus kita pahami bukan berarti perintah yang paling besar berdasarkan urutan/order artinya mementingkan melakukan hukum/perintah ini dulu baru melakukan yang lainnya (karena kita percaya bahwa semua perintah berasal dari Tuhan yang Mahabesar), Amanat Agung Tuhan di Matius 28 itu pun adalah perintah yang penting dan besar. tetapi perintah ini dikatakan paling utama di dalam pengertian bobotnya/kewibawaannya/ dignity. Artinya, dari segala hukum atau perintah yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi pada waktu itu, mereka harus memandang nilai rohaninya dibandingkan sekedar ritual. Apa yang mereka lakukan sebagai rutinitas atau ritual keagamaan, yah beribadah ke Bait Suci, memberi kurban sebagai pengakuan dosa, memberi persepuluhan, memuji Allah, menolong sesama, harus dikerjakan dengan satu pemahaman kasih kepada Allah. seperti yang kita lakukan setiap hari bersaat teduh, kalau kita tidak memahami hukum yang terutama ini, maka kita akan menjalaninya sambil lalu. Ketika kita beribadah tiap minggu ke gereja, kalau kita tidak memahami sungguh2 hukum yang terutama ini, maka kalau hujan kita akan mudah memilih untuk tidak beribadah, dan kita akan beribadah seperti robot yang datang dan pergi tanpa ada gairah kepada Tuhan.

Inilah yang dikecam oleh Yesus di dalam diri Ahli Taurat dan orang2 Farisi. Mereka melakukan keagamaan mereka sebagai sebuah kebanggaan bagi diri sendiri dan menjalaninya sebagai tuntutan hukum tabur tuai (melakukan diberkati, tidak melakukan akan dihukum Tuhan). Kalau saya memberi persembahan ke gereja apalagi dalam jumlah besar maka saya akan diberkati lebih berlimpah lagi. Kalau saya memberi sedikit, wah pantas saja usaha saya tidak maju-maju. Kalau saya memenuhi tanggung jawab saya memberi persepuluhan, Tuhan akan memberkati usaha dan pekerjaan saya. AMIN saudara2? Sejujurnya saya mengaminkan, karena ada janji-janji Tuhan, tetapi bukan itu yang kita cari. Itu urusan Tuhan mau berkati atau tidak, yang pasti kita memberi persembahan karena kita mengasihi Tuhan. Karena persepuluhan itu adalah milik Tuhan. Saya berbuat baik sama orang karena saya percaya Tuhan akan membalas perbuatan baik saya. Itu betul! Tetapi seharusnya kalau kita berbuat baik karena kita mengasihi Tuhan, maka tidak ada orang yang membalas kebaikan kita pun, kita tetap harus berbuat baik. Karena perbuatan baik kita bukan berdasarkan imbalan orang, melainkan perintah Tuhan yang harus kita taati.

SS, Mengasihi Allah dengan segenap hati pasti mengarah kepada mengasihi Allah dengan kehendak dan emosi. Segala keputusan yang kita ambil apakah berdasarkan kehendak kita atau kehendak Tuhan? Karakter kita selama ini apakah sudah menunjukkan kasih kita kepada Tuhan? Mengasihi Allah dengan segenap jiwa tentunya mengarah kepada hubungan pribadi dengan-Nya melalui iman. Apakah ada satu iman yang kuat dan teguh untuk mengenal Dia dan menikmati kehadiran-Nya? Mengasihi Allah dengan segenap kekuatan pasti mengarah kepada melayani-Nya dalam tindakan-tindakan dan perbuatan baik. Apakah ada kerinduan melayani-Nya?

SS, yang menarik pada bagian Markus ini adalah saat Yesus mengutip ayat Ulangan, Ia menambahkan suatu cara lain untuk mengasihi Allah:

Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: "Hukum manakah yang paling utama?" Jawab Yesus: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.

Yesus menambahkan “dengan segenap akal budimu.” Apa yang dimaksudkan Yesus di dalam mengasihi Allah dengan segenap akal budi? Secara sederhana, hal itu berarti berpikir tentang Allah, sadar akan keberadaan-Nya dalam kehidupan setiap hari, merenungkan kehadiran-Nya dan kebaikan-Nya, memenuhi pikiran kita dengan firman-Nya. Hal ini jelas sebenarnya pada lanjutan perikop kitab Ulangan:

Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.
(Ulangan 6:6-9)

Perikop ini memerintahkan agar firman Tuhan diajarkan kepada anak-anak dan dibahas oleh orang dewasa setiap hari di manapun mereka berada. Artinya, mengasihi dengan akal budi dihubungkan dengan proses belajar mengajar.

Yesus melangkah lebih jauh lagi, Ia meminta pengikut-Nya untuk mengasihi Allah dengan “segenap” akal budi. Artinya, apa pun yang bisa dipikirkan oleh seorang anak Tuhan maka harus diserahkan untuk mengasihi Tuhan. Ketika pikiran kita sanggup merencanakan sebuah bisnis, merancang sebuah bangunan, mengarang sebuah cerita, maka ia harus mengasihi Tuhan dalam segala perencanaan, analisis, atau pemahamannya. Kalau ada yang berencana sebuah toko, misalkan toko roti, dengan dana yang besar kita punya uang untuk membangun toko roti yang besar, eh tempat yang kita incar di sebelahnya sudah ada toko roti yang lama di sana hanya saja masih kecil, apakah kita tetap mau buka di sana? Kalau kita mengasihi Tuhan maka ini harus menjadi pergumulan kita. kalau dosen saya kasih contoh, bagus gak nyapu depan rumah kita? bagus! Tapi lihat dulu debunya kemana. Kalo sapu debunya ke rumah tetangga, yah tidak bagus. Kita diberi otak/pikiran untuk mengasihi Allah.

SS, Otak kita beratnya hanya 500 gram tetapi. . .
- 100 Milyar syaraf neutron yang menguasai 10.000 pikiran setiap hari
- Mengontrol 103.000 detak jantung setiap hari
- Mengkoordinasi 23.000 nafas setiap hari
- Mengontrol 600 otot untuk bergerak setiap hari

Otak yang Tuhan berikan kepada manusia luar biasa canggih. Binatang punya otak? Ada, tetapi tidak bisa seperti manusia yang antara otak dan hati dan seluruh keberadaan manusia saling terkait. Karena itu mengabaikan pikiran kita maka kita sedang mengabaikan diri kita sendiri. Sebuah slogan dari sebuah yayasan pendidikan berkata, “a mind is a terrible thing to waste.” Pikiran adalah sesuatu yang sangat mengerikan untuk disia-siakan. Pengamsal berkata di dalam 27:19, “Seperti air mencerminkan wajah, demikianlah hati manusia mencerminkan manusia itu.” Hati di sini secara umum juga menggambarkan kapasitas manusia berpikir sehingga dapat dikatakan pikiran manusia mencerminkan manusia itu sendiri.

Kalau pikirannya selalu kotor, yah manusia itu dalam bertutur kata, bertingkah laku akan menjurus kepada hal2 yang kotor. Kalau pikirannya adalah selalu berbuat dosa, maka apa yang dikatakan dan diperbuatnya selalu berbuahkan dosa. Inilah yang terjadi pada zaman ini. Paulus memberikan kita bukti-bukti bahwa manusia sudah menyia-nyiakan akal budinya dan akal budinya mengalami distorsi. Kira-kira ada 12 bagian firman Tuhan yang mencatat demikian:

1. Roma 1:28, “terkutuk”
2. 2 Korintus 3:14, “tumpul”
3. 2 Korintus 4:4, “dibutakan”
4. Efesus 4:17, “sia-sia”
5. Efesus 4:18, “gelap”
6. Kolose 1:21, “jahat”
7. Kolose 2:4, “diperdaya”
8. Kolose 2:8, “palsu:
9. Kolose 2:18, “duniawi”
10. 1 Timotius 6:5, “rusak/sakit”
11. 2 Timotius, “bobrok”
12. Titus 1:15, “najis”

Sebagai akibat dari semua kerusakan ini maka tidak heran banyak orang yang walaupun selalu diajar, namun tidak pernah dapat mengenal kebenaran (2Tim. 3:7) dan beberapa bahkan giat melayani Tuhan, tetapi tanpa pengertian yang benar (Roma 10:2). Tidak heran, gereja-gereja yang dipenuhi orang adalah gereja yang menawarkan solusi praktis, keajaiban, supranatural. Sedangkan gereja yang berusaha mendidik orang dalam kebenaran, mendorong orang untuk pembinaan, belajar FT mulai dijauhkan. Orang lebih suka dengan penglihatan, mujizat yang katanya dari Tuhan tetapi tidak pernah mau belajar Firman Tuhan yang jelas-jelas penyataan Allah bagi manusia.

Apakah bisa manusia dengan segenap akal budinya mengasihi Tuhan? Tidak dengan keadaan demikian! Bagaimana kita bisa kembali kepada maksud Allah semula bahwa dengan segenap akal budi kita, kita dapat mengasihi Dia?

1. Pikiran kita harus ditebus

Kalau mau diusut maka akar dari kerusakan akal budi manusia adalah berasal dari kejatuhan Adam dan Hawa ke dalam dosa. Hawa begitu diperdaya pikirannya oleh si ular. Di dalam Kejadian 3:6 Hawa menilai buah pohon pengetahuan yang baik dan jahat itu pertama dari segi fisiknya di mana buah itu baik untuk dimakan. Mungkin Hawa berkata dalam hatinya, “hm…mungkin Iblis benar bahwa Tuhan sengaja menghindarkanku dari buah ini agar aku tidak menikmati semua kebahagiaan dalam taman ini.” Berdasarkan pemikiran ini, maka ia melangkah kepada penilaian kedua yaitu secara emosi atau keindahan. Buah itu sedap kelihatannya. Hawa memikirkan buah itu dan merasakan di dalam hatinya. Ada sebuah tulisan berkata, “pikirkan perasaanmu dan rasakan pikiranmu.” Secara negatif, hawa memandang buah itu. Dan terakhir, Hawa mengambil langkah terakhir yaitu penilaian secara intelektual. Buah itu dapat memberi pengertian. Pengertian sepeti yang dimiliki Allah. Pikiran yang sudah jatuh ke dalam dosa ini yang membuat manusia tidak lagi berkenan kepada Tuhan. Apakah ini berarti manusia tidak lagi pintar? Tidak! Manusia banyak yang pintar dan meraih penghargaan nobel atau pulitzer atau penghargaan lain, tetapi itu tidak dapat membuatnya datang kepada Tuhan.

Cerita William James Sidis. Sidis adalah salah satu manusia yang terpandai di dunia yang pernah hidup. Keajaiban Sidis diawali ketika dia bisa makan sendiri dengan menggunakan sendok pada usia 8 bulan. Pada usia belum genap 2 tahun, Sidis sudah menjadikan New York Times sebagai teman sarapan paginya. Semenjak saat itu namanya menjadi langganan headline surat kabar: menulis beberapa buku sebelum berusia 8 tahun, diantaranya tentang anatomy dan astronomy. Pada usia 11 tahun Sidis diterima di Universitas Harvard sebagai murid termuda. Harvardpun kemudian terpesona dengan kejeniusannya ketika Sidis memberikan ceramah tentang Jasad Empat Dimensi di depan para professor matematika. Lebih dasyat lagi: Sidis mengerti 200 jenis bahasa di dunia dan bisa menerjamahkannya dengan amat cepat dan mudah. Ia bisa mempelajari sebuah bahasa secara keseluruhan dalam sehari !!! tetapi percuma segala yang ada di dalam akal budinya tidak membawa dia kepada Tuhan.

SS, sebagai hasil dari penebusan Kristus, maka kita yang percaya kepada-Nya mengalami penebusan tidak hanya hidup tetapi juga pikiran kita sudah ditebus. Pikiran kita bukan lagi milik Iblis yang bisa dimanfaatkannya untuk melakukan dosa dan memberontak kepada Allah melainkan pikiran kita sudah menjadi milik Kristus dan diserahkan bagi kemuliaan Tuhan.

2. Pikiran kita harus diperbaharui

Ketika seseorang sudah masuk ke dalam persekutuan dengan Tuhan, maka segala yang dilakukan dan dipikirkannya adalah jalan yang baru. Pikiran kita akan dimampukan untuk berpikir sesuatu yang baru dan membersihkan pikiran kita yang lama. Tentu saja, ini adalah pekerjaan Allah Roh Kudus yang membersihkan pikiran kita, memperbaharui pikiran kita (Rm. 12:2; Ef. 4:23; Kol. 3:10). Bagaimana caranya Roh Kudus bekerja? Dengan firman-Nya. Untuk berpikir seperti Allah, maka seseorang harus berpikir seperti Alkitab/firman Tuhan.

Harry Blamires berkata, “untuk berpikir secara alkitabiah maka harus berpikir di dalam koridor pewahyuan. Bagi orang sekuler, Allah dan teologi adalah area bermain mereka. Bagi kekristenan, Allah adalah nyata, dan teologi Kristen menggambarkan kebenaran-Nya yang dinyatakan-Nya kepada kita. bagi pikiran sekuler, agama adalah hanya sekedar masalah teori, bagi pikiran Kristen, kekristenan adalah berbicara aksi dan fakta. Aksi dan fakta yang didasarkan kepada iman kita yang tercatat di dalam firman Tuhan." (Terjemahan bebas)

Karena itu pembaharuan akal budi adalah melalui firman-Nya. Tidak ada jalan yang lain!
Kalau pikiran kita sudah ditebus dan diperbaharui, maka tentu kita dituntut oleh Tuhan untuk mempersembahakannnya dengan segenap akal budi kepada Tuhan.

Pada abad 5 sampai 11, adalah merupakan abad di mana pengetahuan berhenti dan pengajaran hampir dimusnahkan. Abad ini dikenal dengan abad kegelapan. Dimana orang Vandal membakar perpustakaan-perpustakaan. Seni membaca hampir hilang. Bahasa-bahasa kuno dilupakan. Orang hanya memperhatikan kesenangan dan bagaimana dapat bertahan hidup. Namun bersyukur, ada warisan2 yang tidak punah. Warisan budaya Yunani dan hukum Roma tidak dilupakan. Karya2 besar dalam seni, literatur, penemuan, dll dipelihara. Bagaimana bisa demikian? Karena gereja Kristen mempertahankannya. Di dalam biara2, ada orang2 yang menyalin buku-buku kembali. Alkitab, karya-karya bpk2 gereja, sejarah dan filsafat, karya sastra, tulisan mengenai kedokteran, bilogi, puisi dan teknik ketrampilan semua disimpan, dibahas, dipelihara dengan baik.

Melihat dunia modern saat ini, sepertinya abad kegelapan itu kembali muncul. Banyak orang yang mulai merusak nilai-nilai. Mereka menghina keteraturan dan nilai-nilai objektif. Orang tidak lagi taat kepada hukum. Semua lebih suka melihat kekerasan dan antiintelektualisme. Semua beralih kepada spiritualisme yang palsu di dalam Yoga, kundalini, reiki, positive thinking, dll.

Seorang profesor yang bernama Gene Edward Veith berkata, “jika zaman kegelapan hadir kembali, pengetahuan mungkin akan bertahan lagi, seperti yang selalu terjadi, dalam gereja. Saya membayangkan orang Kristen bertemu bersama untuk membahas hal-hal penting mengenai teologi dan gagasan lain ketika tidak ada orang lain yang tertarik kepada pemikiran abstrak; dan orang Kristen membaca Alkitab dan buku-buku lain, di saat orang-orang lain lebih suka menonton televisi. Jika Kristus menunda kedatangan-Nya yang kedua kali, dan jika gereja menolak untuk menyamakan diri dengan kecenderungan dunia, mungkin orang Kristen—seperti pada masa lalu—akan mempelopori suatu renaissans baru; perkembangan seni dan sains, pembaruan budaya barat dan timur, dan kebangunan spiritualitas yang alkitabiah.”

apakah kita mau menjadi bagian dari kepeloporan ini bisa suatu saat terjadi?

MaUKAH?
1. TIDAK MALAS BERPIKIR
2. MULAI BELAJAR SERIUS FIRMAN TUHAN
3. MEMIKIRKAN NILAI-NILAI KEKRISTENAN DAN MENERAPKANNYA DI MANAPUN KAMU BERADA.

Khotbah di Komisi Pemuda GKKB Pontianak tgl 5 Oktober 2008

Saturday, September 27, 2008

Tanggung Jawab dalam pernikahan


Pernikahan adalah perjalanan yang baru menuju kedewasaan. Beberapa kali saya mengamati orang yang dulunya saya kenal nakal tetapi setelah menikah maka ia mengalami perubahan (memang tidak semua). Apakah diperlukan pernikahan terlebih dahulu, baru orang menyadari arti sebuah tanggung jawab?

Saya rasa tidak seharusnya demikian. Tetapi kalau memang di situlah momen Tuhan bekerja, maka apa kata, Tuhan yang berkuasa.

Ngomong soal ngomong, bukan berarti saya sendiri bukan tipe yang di atas. Saya bukannya tidak menyadari arti tanggung jawab, melainkan saya baru menyadari bagaimana memegang teguh apa itu tanggung jawab. Ya! Melalui pernikahan pulalah saya disadarkan demikian. Tidak cukup ternyata hanya menyadari arti tanggung jawab dan kemudian melakukannya. Perlu sekali sebenarnya apa itu memegang teguh tanggung jawab. Memang di dalam pernikahan yang dini ini saya belum bisa membuktikan apa-apa kepada dunia, tetapi kok ada keyakinan di dalam hati saya bahwa memegang tanggung jawab itu tidaklah sesulit yang saya pikirkan ketika sebelum menikah. Boro-boro memegang tanggung jawab, melakukannya pun sulit. Dan boro-boro juga melakukan tanggung jawab, sadar bahwa harus bertanggung jawab pun sulit. Trus apalagi?

Saya mencatat ada beberapa perubahan yang juga dini di dalam saya memegang tanggung jawab:

  1. Menjaga istri saya sampai tetes darah penghabisan. Membaca Efesus 5:25 membuat saya miris dan bergidik. Yang tadinya bangga kalo harus dihormati istri, eh, kita malah dituntut firman untuk mati bagi istri. Jadi, mana yang lebih susah tanggung jawabnya untuk dipertahankan? Yah engkau kaum Adam dan gue! Susah gak? Kaga juga kelihatannya karena yah emang belum ada bahayanya (jadi belum teruji) dan kedua yah emang kaga susah karena saya mendapati betapa diri saya sangat mencintai istri saya meskipun tidak secinta Tuhan kepada kita yang berdosa. Tapi kalo bahaya itu datang dan kita disuruh mati bagi istri, kira-kira cukup gak yah dengan cinta? Terlalu dini memang menyimpulkannya. Tapi kalo urusan angkat berat-berat agar istri tidak mati kecapean, mati kelelahan, mati ketiban, maka saya sudah lulus.
  2. Menerima dia apa adanya secara fisik dan kebiasaan. Istri saya tidak cantik-cantik buanget kayak Angelina Jolie (bibirnya mirip-mirip setelah saya teliti) tetapi dia juga tidak biasa-biasa buanget. Kalo kata dosen pembimbing kami, dia adalah wanita di atas rata-rata wanita pada umumnya. Hm…..jawaban yang tepat! setiap ada kesempatan memandangnya, maka saya mendapati ada gerakan-gerakan, mimik muka, bagian-bagian di dalam dirinya yang kurang pas dengan irama penerimaan saya. Tetapi eits….nanti dulu, ini dia namanya perubahan untuk bertanggung jawab menerima segala perubahan. Bingung bingung luh! Tetapi bukan berarti ini adalah perubahan yang terpaksa karena sebuah komitmen tetapi saya menamakan ini adalah perubahan yang lahir dari sebuah cinta yang dalam karena pengenalan akan Tuhan. Saya yakin seyakin-yakinnya ini tidak hanya sementara tetapi long lasting karena Tuhan yang menjaga. Ya iya lah, kalo kaga percaya Tuhan lagi, dengan kata lain, bukan orang pilihan Tuhan, maka saya sangat besar kemungkinan tidak memiliki cinta yang demikian. Yang ketiga,
  3. Menerima dicintai dengan sangat oleh istri.

Tidak pernah saya dicintai dan dikasihi orang selain daripada mama yang merawat saya, papa yang cool tapi dengan ekor matanya memperhatikan, link yang cuek tetapi sesekali dekat buanget. Kali ini yang mencintaiku dan mengasihiku adalah istriku yang begitu menunjukkan cinta dan kasih seperti yang keluarga saya lakukan. Saya tidak akan melanjutkan bagian ini karena ada banyak rahasia dapur keluarga sendiri yang masih mengepul. Bisa-bisa gara-gara artikel ini istriku tidak lagi mencintaiku seperti dahulu. Peace istriku!

Akhir kata. Pernikahan itu indah. pernikahan itu mulia. Pernikahan itu mendamaikan jiwa. Pernikahan itu kalau disertai Allah maka akan seperti di surga. Dan terakhir, Pernikahan itu mengajarkan perubahan di dalam tanggung jawab.

Salam pernikahan kudus 7 September 2008!

Monday, September 15, 2008

Heroes (4)

Pahlawan Iman

Setelah mengetahui mengenai Pahlawan Sejati, masih ada yang saya namakan pahlawan iman. Pahlawan iman adalah mereka yang memuliakan nama Tuhan dengan memperjuangkan dan mengorbankan diri mereka menjadi martir. Martir kedua (yang pertama tentu Tuhan Yesus yang tidak sekedar menjadi martir pertama, melainkan menjadi sumber dari segala kemartiran yang ada di sepanjang sejarah) yang dicatat di dalam Alkitab adalah Stefanus (Kis. 7:54-60). Ia dirajam dengan batu sampai mati. Kemudian kita melihat satu persatu para Rasul (murid Tuhan Yesus) dihukum mati secara mengenaskan oleh pemerintah Roma. Sebut saja Yakobus (Kis. 12:2) yang dihukum mati sekitar tahun 44 M oleh perintah Raja Herodes Agrippa I dari Yudea. Kemartirannya menjadi penggenapan dari hal yang diramalkan Yesus tentang ia dan saudaranya Yohanes (Mrk. 10:39). Penulis terkenal, Clemens Alexandrinus, menulis bahwa ketika Yakobus dibawa menuju tempat eksekusinya, keberaniannya yang luar biasa menimbulkan kesan yang mendalam pada satu orang yang menangkapnya, sehingga ia jatuh bertelut di depan rasul itu, meminta ampun kepadanya dan mengaku bahwa ia adalah orang Kristen juga. Ia berkata bahwa Yakobus jangan mati sendiri, akibatnya mereka berdua dipenggal kepalanya. Masih banyak lagi para martir sampai pada abad 21 sekarang ini yang terus mencucurkan darahnya untuk menyirami jalan salib seperti lagu yang diciptakan Pdt. Stephen Tong dan C. M. Yu berjudul Api Zaman—“Darah kaum martir yang belum kering, yang menyirami jalan salib. . .” (Kidung Puji-Pujian Kristen no. 382). Mereka sungguh para pahlawan iman (informasi lebih banyak di www.hrionline.ac.uk atau www.ccel.org atau www.the-tribulation-network.com atau search di Goggle dan Yahoo untuk website martir Indonesia). Apakah kamu dan saya berani melakukan hal yang sama seperti mereka ini bila berada di dalam tekanan? Boro-boro martir, diejek sama teman saja karena kita tidak mau ikut nyontek, ngerokok, atau perbuatan dosa lainnya, kita sudah merasa malu. Well, my friend, is it you?

So, what gitu loh?

Apa yang harus ku lakukan setelah membaca artikel ini? Apa efeknya bagiku? Kalau kamu sudah bertanya demikian, puji Tuhan! Berarti kamu tidak sekadar membaca, melainkan rindu artikel ini mengubahkan hidupmu. Pada hari kemerdekaan Republik kita, Indonesia, kita perlu mengucap syukur atas pengorbanan pahlawan sejati kita—Yesus Kristus—bagi kemerdekaan hidup kita. Tanpa Dia, maka kita tidak akan pernah merasakan kemerdekaan dari dosa kita. Bersyukurlah atas pengorbanan pahlawan-pahlawan yang selama ini sudah mengorbankan dirinya bagi hak hidup orang banyak, yang tidak mementingkan dirinya sendiri dan sudah memberikan suri teladan bagi kita. Bersyukurlah dan hormatilah pahlawan-pahlawan yang masih hidup sekarang (seperti orang tua, guru, dan para pendidikmu). Dan terakhir, jadilah “pahlawan” yang mementingkan kepentingan orang banyak, mengasihi, rela memberikan waktu, tenaga, pikiran bagi pekerjaan Tuhan. Start now, ending never! Soli deo gloria.

Friday, August 22, 2008

Heroes (3)

Pahlawan sejati

Di antara semua pahlawan yang ada di dalam sepanjang sejarah manusia, maka mau tidak mau kita harus memperhatikan dengan seksama kepada seorang pahlawan sejati yang tidak hanya menjadi pahlawan bagi banyak orang saja, tetapi bagi semua orang yang pernah lahir di tengah-tengah dunia ini, termasuk pahlawan-pahlawan yang ada. Dia adalah Tuhan kita, Yesus Kristus yang adalah pahlawan dari segala pahlawan yang ada. Apa yang diperbuatnya? Penyelamatan manusia dari kebinasaan. Dia adalah pahlawan sejati karena di saat manusia/pahlawan-pahlawan lain membanggakan/mengharapkan statusnya, Tuhan Yesus justru menanggalkan statusnya. Di dalam Filipi 2:6-8, Rasul Paulus dengan jelas memakai teladan Yesus untuk menunjukkan kepada jemaat Filipi arti mementingkan orang lain daripada diri sendiri dengan penggambaran pengosongan diri-Nya (menanggalkan statusnya sementara, tanpa menghilangkan jati diri-Nya sebagai Allah) sebagai Allah yang kemudian mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia. Di dalam ayat 6, kita melihat bahwa natur Allah (rupa Allah) di dalam diri Yesus tidak hilang yang menandakan Dia tetap Allah meskipun menjadi manusia. Yesus yang adalah Allah rela menundukkan diri-Nya demi menjalankan misi Allah Bapa yaitu keselamatan bagi umat pilihan-Nya. Pada akhirnya nanti di atas kayu salib, Yesus sebagai Allah yang dapat menanggung seluruh dosa manusia dan Yesus sebagai manusia yang menjadi wakil manusia yang terhukum, sehingga kamu dan saya tidak lagi menerima hukuman karena sudah digantikan oleh Pahlawan Sejati, Tuhan Yesus Kristus.


Melihat pengorbanan yang Kristus kerjakan bagi kita manusia yang berdosa, maka sudah sepantasnyalah kita mengelu-elukan Dia, menempatkan Dia sebagai pusat teladan dan pusat otoritas hidup kita. Apalagi kalau berbicara kepemilikan maka kita adalah milik-Nya, bukan lagi milik si Iblis yang “elek” itu. Banyak orang sekarang menggandrungi Samson, Nidji, Delon “idol”, dan artis-artis lainnya, sampai-sampai ada acara di televisi yang menampilkan seorang fans yang ngebet bertemu idolanya karena merasa melalui idolanya itu fans ini mendapatkan banyak inspirasi, wejangan, dan semangat hidup (padahal belum pernah bertemu). Hal ini sebenarnya masih dalam taraf wajar kalau apa yang diajarkan dan dicontohkan si idola adalah hal yang positif dan memang memberi semangat hidup. Masalahnya, ada banyak orang yang saking ngefansnya, maka tidak perduli idolanya baik atau buruk, ia tetaplah idolanya (bahkan ada juga ketika idolanya salah dan bermasalah masih dibela dengan membabi buta). Perlu kita ketahui bahwa manusia sangat terbatas dan mudah mengecawakan. Manusia sudah jatuh dalam dosa sehingga sangat rentan untuk mewariskan pengaruh-pengaruh buruk kepada sesamanya. Tetapi Kristus tidak! Ia tidak berdosa. Ia sempurna dan Yang sempurna ini seharusnya yang pantas dan layak kita elu-elukan sebagai idola/pahlawan kita.


Kalau demikian, apakah berarti kita tidak boleh mengagumi pahlawan yang ada di dunia ini dan meneladani perbuatan mereka? Saya tidak mengatakan gak boleh, tetapi yang terpenting adalah mengidolakan Kristus dalam hidup kita. Christ is number one! Kita harus akui bahwa Tuhan dapat memakai manusia—baik yang percaya kepada-Nya maupun yang tidak—untuk menyatakan hal-hal yang baik bagi dunia ini, misalnya Mahatma Gandhi, Martin Luther King, Para Nabi dan Rasul di dalam Alkitab, dll. Namun segala kebaikan dan kebenaran yang mereka lakukan harus kita akui berasal dari Tuhan sehingga ketika kita mengagumi mereka, maka kita teringat kepada Tuhan yang lebih harus kita kagumi.


Paulus berani mengatakan, “Peganglah segala sesuatu yang telah engkau dengar dari padaku sebagai contoh ajaran yang sehat dan lakukanlah itu dalam iman dan kasih dalam Kristus Yesus. Peliharalah harta yang indah yang telah dipercayakan-Nya kepada kita, oleh Roh Kudus yang diam di dalam kita” (1Tim. 1:13-14). Maksud Paulus adalah agar Timotius, anak rohaninya, memegang erat segala pengajaran, suri teladan, perbuatan, iman, pendirian Paulus (lih. 1Tim. 3:10) karena Paulus pun meneladani Kristus. Dengan kata lain, Kristus dapat memakai, khususnya orang-orang yang dipilih-Nya, untuk menyatakan karakter Ilahi, maksud dan kehendak-Nya agar ketika orang lain meneladani Paulus, mereka melihat Kristus di dalamnya. Hak istimewa ini tidak diselewengkan Paulus. Ia berkata, “. . . Kristus adalah pengharapan akan kemuliaan! Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus. Itulah yang kuusahakan dan kupergumulkan dengan segala tenaga sesuai dengan kuasa-Nya, yang bekerja dengan kuat di dalam Aku” (Kol. 1:27b-29). Paulus membawa orang yang mengikuti teladannya kepada kesempurnaan Kristus, bukan kesempurnaannya yang tentu tidak akan pernah sempurna selama masih di dunia ini. Kesempurnaan dalam Kristus inilah yang diusahakan dan digumulkannya. Kalau sudah demikian, apakah kita masih mau petantang petenteng menganggap diri kita pantas dikagumi? Paulus saja yang rohaninya jauh lebih baik dari kita membawa orang kepada Kristus, masakah kita yang rohaninya masih ece-ece membawa orang untuk mengagumi kita?

Heroes (2)


Pahlawan maya

Di samping pahlawan-pahlawan di atas, kita mengenal pahlawan dalam bentuk maya. Biasanya justru ini yang lebih menarik dibandingkan mengenal pahlawan-pahlawan di atas. Apa arti pahlawan maya? Pahlawan maya seperti Gaban, Batman, Superman, Spiderman, “Po” si Kungfu Panda dan Super Heroes lainnya, bahkan pahlawan bertopeng adalah pahlawan-pahlawan yang tidak nyata di dalam kehidupan kita. mereka memiliki kekuatan super yang tidak dimiliki oleh orang biasa pada umumnya. Mereka hanya beraksi di media-media televisi dan film, tetapi tidak pernah terjadi di dalam kehidupan yang sesungguhnya. Apa kerugian kita melihat dan menggandrungi pahlawan maya ini? (1) Kita akan kehilangan jati diri kita sebagai manusia. Biasanya anak-anak yang sudah dipengaruhi oleh pahlawan maya akan bertingkah laku seperti mereka seakan memiliki kekuatan super dan imortalitas (tidak dapat mati). Ini akan membawa bias bagi anak untuk mengetahui bahwa dirinya hanyalah manusia terbatas yang diciptakan Tuhan. Lama kelamaan mereka akan tidak membutuhkan Tuhan lagi karena pikirannya sudah dipengaruhi oleh kekuatan Super Heroes tersebut. Tidak heran, zaman ini manusia, khususnya anak-anak, sulit sekali diajarkan keterbatasan manusia dan kemahakuasaan Allah. (2) Mudah untuk melakukan hal yang bodoh. Beberapa kali saya mendengar berita bahwa ada anak yang dengan kain diikatkan di lehernya seperti Superman melompat dari tempat yang tinggi ke bawah. Ada yang luka-luka bahkan sampai meninggal. Demikian pula sewaktu acara gulat Amerika (WWF) gandrung di Indonesia, ada banyak berita yang menyatakan bahwa anak-anak meniru perbuatan dari pegulat-pegulat tersebut sehingga mengakibatkan banyak anak yang cedera. Anak-anak mudah sekali diprovokasi oleh pahlawan-pahlawan maya ini. (3) Pahlawan maya hanya akan menambah idola baru yang akan menggantikan posisi Tuhan di dalam hati manusia. Seringkali pahlawan-pahlawan demikian ditunggangi oleh Gerakan Zaman Baru (New Age Movement) yang mengutamakan potensi di dalam diri manusia ketimbang kuasa Allah. Bahkan cilakanya, di dalam konsep Gerakan Zaman Baru ini, manusia bisa menjadi Allah (melebihi perkataan si ular di dalam Kej. 3:5—menjadi seperti Allah) pada akhirnya asal manusia mau sungguh-sungguh memperjuangkannya dengan cara-cara seperti meditasi, Yoga, dan model spiritualisme lainnya.


Namun dari kelemahan-kelemahan ini, kita perlu akui ada kekuatan yang ditimbulkan oleh pahlawan maya ini: (1) Orang akan diajarkan untuk membela kebenaran dan keadilan. Ketika melihat pahlawan maya ini beraksi di film, mereka akan menyadari bahwa ada banyak orang yang memerlukan pertolongan. Ini sebenarnya mengajarkan mereka untuk memperhatikan kepentingan orang lain daripada kepentingan diri sendiri. (2) ketika memiliki keinginan untuk menolong orang, maka kepercayaan diri mereka akan muncul. Kalau begitu, perlukah kita menggandrungi pahlawan maya ini? Bagi saya, mengenal dan mengetahui pahlawan maya boleh-boleh saja. Tetapi pahlawan maya ini tidak boleh menggantikan posisi Tuhan di dalam hati kita. Bila pahlawan maya ini sudah menjadi kebanggaan kita melebihi Tuhan, maka kita sudah harus berhati-hati.

Thursday, August 21, 2008

Heroes (1)


Pendahuluan


Setiap saya mendengar kata “pahlawan,” hati saya dilingkupi dengan kekaguman. Yang membuat saya kagum adalah, seorang pahlawan rela berjuang dan berkorban dengan meneteskan darahnya, keringatnya, air matanya, hartanya, waktunya, tenaganya sampai titik penghabisan. Kadang saya bertanya-tanya di dalam hati, mengapa mereka mau melakukan semua perjuangan dan pengorbanan ini? Jawabannya adalah mereka merindukan sebuah perubahan terjadi di dalam kehidupan banyak orang, tidak hanya perubahan bagi dirinya sendiri. Bagaimana kita sebagai anak Tuhan menyikapi pahlawan-pahlawan yang sudah meninggalkan kita maupun yang saat ini masih berjuang di sekeliling kita? Mungkin langkah awal adalah kita mengingat mereka.


Mengenal pahlawan


Pahlawan di dalam setiap sejarah manusia sudah berjuta-juta orang, dari pahlawan di dalam Alkitab, pada masa Kerajaan-kerajaan, Perang Dunia I dan II, reformasi, sampai saat sekarang yang masih berjuang. Kalau dihitung-hitung, maka terlalu panjang daftarnya. Sebagai contoh di Indonesia, sejarah mencatat bagaimana Hayam Wuruk, Gajah Mada, Pangeran Diponegoro, Jenderal Sudirman, Bung Karno, Bung Hatta, si Pitung, Elang dan Wawan (mahasiswa yang mati dalam peristiwa Trisaksi dan Semanggi) berjuang dan berkorban demi kepentingan banyak orang. Kita dapat mengenal mereka melalui buku-buku yang dijual. Ada di dalam bentuk Biografi, rangkuman sejarah dunia, maupun di dalam ensiklopedia. Selain buku, kita juga dapat memperoleh kejelasan melalui website-website sejarah (silakan search di Yahoo atau Goggle). Penting sekali kita mencari dan mengupayakan pengenalan kita agar kita dapat mengenal siapakah para pahlawan ini sebelum mengikuti suri teladannya.

Monday, July 28, 2008

Pahlawan Iman


2 Samuel 23:8-23; Ibrani 11:32-40

Baca 2 Samuel 23:8-24b. Wow! Luar biasa kisah ini. Bayangkan bagaimana kalau hal demikian terjadi dalam hidup kita. ada orang-orang yang rela berkorban bagi kita, bahkan mengorbankan nyawanya bagi kita.


Mari kita baca lagi kali ini di dalam Perjanjian Baru Ibrani 11:32-40.


Kemarin kita sudah belajar mengenai ketidakbersalahan Alkitab dan kita memiliki tanggung jawab sebagai anak Tuhan untuk menjaga gawang kebenaran Alkitab dari orang-orang yang menentang maupun yang menurunkan derajat kebenaran Alkitab. John Huss adalah salah satu pahlawan iman yang pernah hidup di dunia yang berjuang membela kebenaran Alkitab. Ia berjuang mempertahankan Alkitab adalah sumber otoritas tertinggi.


John Huss adalah seorang anak Tuhan yang menentang otoritas Paus sebagai otoritas tertinggi di dalam Gereja. Bagi John Huss, otoritas tertinggi di dalam Gereja adalah Alkitab yang dapat menyelesaikan semua masalah Gereja. Akibat penentangannya ini, John Huss dibawa ke pengadilan. Di sana, Ia menolak dengan tegas otoritas Paus dan membela Alkitab. Akhirnya pengadilan memutuskan John Huss dibakar sebagai penyesat.

Tujuh orang maju ke depan dan memerintahkan kepada Huss untuk menaruh pakaian imamnya dan ia melakukannya. Mereka kemudian mulai menghina dan mengejeknya pada saat mereka melepaskan pakaian imam darinya satu demi satu. Kemudian pada kepalanya yang berdarah mereka menempatkan topi kertas Uskup yang memiliki gambar roh-roh jahat dan kata-kata, "biang keladi bidat."

Ketika Uskup mengenakan penutup kepala dari kertas di kepala Huss, ia berkata, "Sekarang kami menyerahkan jiwamu kepada neraka." Huss mengangkat matanya ke surga dan berkata, "Namun, aku menyerahkan ke dalam tangan-Mu, O Tuhan Yesus Kristus, rohku yang telah Engkau tebus."

Huss kemudian dituntun melewati api unggun tempat mereka membakar buku-bukunya dan diikat di tiang dengan rantai. Ketika pelaksana eksekusi melingkarkan rantai ke sekeliling tubuhnya, Huss tersenyum dan berkata, "Tuhanku Yesus Kristus diikat dengan rantai yang lebih kuat daripada ini demi aku, jadi mengapa aku harus malu dibelenggu dengan rantai yang berkarat ini?"

Ikatan kayu ditumpuk sampai ke lehernya kemudian Duke of Bavaria berusaha membuatnya menyangkal ajarannya. Huss menjawab, "Tidak, aku tidak pernah mengkhotbahkan doktrin yang jahat dan hal yang kuajarkan dengan bibirku aku meteraikan dengan darahku." Ketika berkas kayu api dinyalakan dan nyala api menyelubunginya, Huss menyanyikan himne begitu keras dan penuh sukacita sehingga suaranya bisa terdengar mengatasi bunyi kayu yang terbakar dan suara orang banyak yang menonton ia dibakar. Namun, segera suaranya berhenti ketika nyala api itu mencapai tenggorokan dan wajahnya, dan ia tertelungkup ke depan bersandar pada rantainya.

Dengan kebodohan lebih lanjut para uskup dengan teliti mengumpulkan abu Huss dan membuangnya ke Sungai supaya tidak ada sisa Huss yang masih tetap ada di bumi. Namun, mereka tidak bisa menghapuskan kenangan akan ia atau ajarannya dari pikiran para pendukungnya dengan siksaan, api atau air. Melalui mereka, kenangan akan ia dan ajarannya akan terus dihormati serta tersebar lebar dan luas. Setelah mati, Huss memberikan ancaman lebih besar pada Gereja Roma daripada saat hidup.

Ini hanya salah satu contoh pahlawan iman di sepanjang sejarah kekristenan. Kedua bagian firman Tuhan yang kita baca tadi menunjukkan kepada kita bahwa Alkitab pun mencatat ada banyak pahlawan-pahlawan iman. Yang perlu kita renungkan malam ini adalah, mengapa Tuhan mencatat pahlawan-pahlawan ini di dalam Alkitab? Tentu Tuhan memiliki maksud. Saya melihat ada 2 maksud Tuhan mencatat para pahlawan ini di dalam Alkitab:

1. Agar kita meneruskan apa yang sudah mereka perjuangkan/pertahankan.
Manusia pada umumnya adalah manusia yang hidup untuk bertahan. Para suami bekerja keras untuk mempertahankan keluarganya tidak kelaparan, para ibu atau perempuan berusaha mempertahankan tubuhnya tetap ideal, para politisi dan penguasa bekerja keras mempertahankan harga dirinya, para pengusaha atau pedagang berusaha mempertahankan bisnisnya tidak bangkrut di tengah kesulitan ekonomi, para karyawan berusaha mempertahankan agar dirinya tidak di PHK atau dipecat dari pekerjaannya, para siswa dan mahasiswa berjuang mempertahankan nilainya tidak jelek, dan semua manusia pasti berusaha dengan keras untuk mempertahankan dirinya dari segala ancaman kematian. Hidup manusia adalah hidup untuk mempertahankan sesuatu yang dianggap penting baginya. Tetapi apakah hidup kita hanya sekedar mempertahankan hal-hal di atas?

Tentu tidak! Karena firman Tuhan mengatakan di dalam Kolose 2:6, “kamu telah menerima Kristus Yesus Tuhan kita. karena itu, hendaklah [ay. 6b, 7, 16, 3:1, 5, 12], khusus lihat di pasal 3:1-2, hendaklah cari perkara yang di atas (kekekalan), ayat 2 mengatakan pikirkanlah perkara yang di atas bukan yang di bumi.” Kaki memang ada di bumi tetapi kepala harus ada di surga sehingga keadaan di bumi kita jadikan seperti di surga.

Artinya begini, secara praktis saya akan gambarkan demikian, uang pasti kita perlukan, penampilan juga perlu, sehat perlu, nilai baik perlu, semua perlu kita pertahankan/kita cari dalam hidup kita (ini berarti kaki kita masih di bumi) fakta yang tidak dapat kita sangkali, tetapi kalau kita hanya fokus kepada apa yang di bumi ini maka kita hanya akan berkutat dengan hidup yang biasa-biasa saja, padahal Tuhan memberikan kelimpahan dan kepenuhan di dalam-Nya. Kita harus berpikir keluar dari batas hanya di bumi saja, melainkan perkara surga. Masalah kerohanian kita apakah menjadi perhatian kita yang serius seserius kita bekerja mencari uang? Apakah kita perduli untuk mempertahankan saat teduh atau kehidupan doa kita sebaik kita mempertahankan diri kita tidak dipecat di kantor? Kalau kita peduli, maka kita sudah melakukan kaki di bumi tetapi kepala di surga. Saya ambil contoh di dalam Efesus 4:28, “. . . baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan.” Jadi kita kerja bukan sekedar untuk makan bagi saya dan keluarga melainkan berusaha memikirkan orang lain seperti yang Tuhan perintahkan.

Setiap anak Tuhan tidak sekedar memiliki tanggung jawab mempertahankan hidupnya sehari-hari melainkan harus mempertahankan sesuatu yang jauh lebih penting dari hidupnya sehari-hari.

Kalau kita melihat para pahlawan Daud, mereka mempertahankan sesuatu melebihi hidup mereka. Mereka sedang mempertahankan dengan perjuangan dan pengorbanan agar nama Tuhan tetap tegak berdiri. Bangsa Filistin pada waktu itu sangat meremehkan bangsa Israel (lih. 1Sam. 17:25-26). Firman Tuhan mengatakan bahwa meremehkan bangsa Israel adalah meremehkan Allah.

Di saat bangsa Israel mundur (ay. 9), para pahlawan Daud dengan gagah beraninya bersama-sama Rajanya Daud berdiri mempertahankan nama Allah. Mereka berani karena mereka percaya kepada Rajanya Daud yang adalah orang pilihan Allah yang diberi janji penyertaan di dalam segala peperangan. Dan Tuhan memang memberkati peperangan mereka dengan kemenangan-kemenangan besar. Eleazar tetap bersama Daud meskipun semua bangsa Israel mundur dan dengan memakai pedangnya yang sampai melekat di tangannya, banyak orang Filistin mati (ay. 9-10). Sama tetap berdiri di tengah-tengah ladang kacang merah menghadapi orang Filistin meskipun semua tentara sudah mundur dan Tuhan memberinya kemenangan (ay. 11-12). Dan kita melihat pahlawan lainnya yang dengan gagah perkasanya melawan bangsa Filistin dan bangsa lain.

Bagaimana dengan Perjanjian Baru? Saking banyaknya pahlawan Tuhan, Alkitab ini tidak cukup menceritakannya. Banyak orang yang berjuang menaklukkan kerajaan, mengamalkan kebenaran, rela disiksa, diejek, didera demi mempertahankan kebenaran dan demi nama Tuhan dinyatakan sehingga banyak orang datang kepada Tuhan. Nah kita melihat, bagaimana mereka bisa melakukan semua hal ini? Karena iman kepada Tuhan. Iman adalah keyakinan yang kokoh terhadap firman Tuhan. Iman adalah keyakinan yang kokoh akan Yesus sebagai Tuhan dan Raja.

Nah, daftar Perjanjian Baru ini berlanjut di dalam daftar nama para martir Kristus sepanjang abad manusia. Saya ambil contoh:

Polikarpus, seorang murid Rasul Yohanes dan penilik gereja di Smirna. Ia mendengar bahwa para prajurit mencarinya lalu ia berusaha melarikan diri, tetapi ia ditemukan oleh seorang anak. Setelah memberi makan para penjaga yang menangkapnya, ia meminta waktu satu jam untuk berdoa dan permintaannya dikabulkan mereka. Ia berdoa dengan begitu tekun sehingga para penjaga itu meminta maaf kepadanya karena mereka ditugaskan untuk menangkapnya. Namun, ia akhirnya dibawa ke depan gubernur dan dihukum bakar di tengah pasar.
Setelah putusan hukumannya ditentukan, gubernur berkata kepadanya, "Celalah Kristus dan aku akan melepaskan kamu."

Polikarpus menjawab, "Delapan puluh enam tahun aku telah melayani Dia; Ia tidak pernah berbuat salah kepadaku. Bagaimana mungkin aku mengkhianati Rajaku yang telah menyelamatkan aku?"

Di tengah pasar, ia diikat di tonggak dan tidak dipaku seperti kebiasaan pada saat itu karena ia menjamin mereka bahwa ia akan berdiri tanpa bergerak dalam nyala api dan tidak akan melawan mereka. Pada saat kayu-kayu kering yang diletakkan di sekitarnya dinyalakan, nyala api itu berkobar dan menyelubungi tubuhnya tetapi tidak membakarnya. Maka pelaksana hukuman diperintahkan untuk menusuknya dengan pedang. Ketika ia melakukannya, darah yang sangat banyak menyembur keluar dan memadamkan api itu. Meskipun ternan-ternan Kristennya memohon agar tubuhnya diberikan kepada mereka supaya mereka dapat menguburkannya, musuh-musuh Injil bersikeras agar tubuhnya dibakar dengan api, dan itu dilaksanakan.

Bagaimana dengan kita? apa yang sedang kita pertahankan? Mungkin kita tidak perlu sampai mati untuk mempertahankan iman seperti John Huss, Polikarpus atau martir lainnya, tetapi apakah kita sudah meneruskan perjuangan dan pengorbanan mereka melalui hidup kita? apakah kita sedang mempertahankan nama Tuhan harum melalui hidup kita?
Ini yang pertama, Tuhan menuliskan para pahlawan iman di dalam Alkitab agar kita dapat meneruskan perjuangan mereka, yang kedua adalah agar kita dapat meneruskannya dengan setia.

2. Agar Kita meneruskannya dengan setia.
Para pahlawan Daud begitu setia kepada Daud sebagai orang pilihan Tuhan (1Taw. 11:10). Mereka berani melakukan apa saja bagi Daud karena dengan setia dan taat kepada orang pilihan Tuhan, maka itu menandakan ia juga setia dan taat kepada Tuhan. Dari bagian yang kita baca, ketika Daud menginginkan air yang ada di Betlehem padahal Betlehem dikuasai bangsa Filistin, tiga pahlawan Daud menyusup dan berhasil mengambil air dari sumur di Betlehem itu. Mereka melakukan apa yang diperintahkan oleh Rajanya Daud meskipun bahaya. Hal ini mengharukan Daud sehingga Daud mempersembahkan air ini kepada Tuhan sebagai yang layak menerimanya.
Tidak hanya hal yang baik, pahlawan Daud pun melakakukan dengan setia dan taat apa yang salah diperintahkan Daud (bukan berarti kita harus setia kepda yang salah) tetapi saya ingin menunjukkan bahwa betapa setia dan taatnya para pahlawan Daud kepada Daud sebagai orang pilihan Tuhan. Di dalam pasal berikutnya pasal 24, di sana dikisahkan (memang lebih jelasnya kalau kita melihat catatan di 1 Tawarikh 21) bahwa Daud diperdaya oleh Iblis untuk menghitung seluruh pasukannya. Di dalam 1 Tawarikh 21:1 lebih jelas dituliskan, “Iblis bangkit melawan orang Israel dan ia membujuk Daud untuk menghitung orang Israel.” Lalu Daud memerintahkan kepada Yoab, panglima Daud untuk pergi menjelajahi negeri dan menghitung pasukannya. Perbuatan Daud ini jahat di mata Tuhan 1 Tawarikh 21:7, “tetapi hal ini jahat di mata Allah, sebab itu dihajarnya orang Israel.” Mengapa jahat di mata Allah dengan menghitung pasukan Israel? Karena itu menunjukkan bahwa Daud mengandalkan pasukannya daripada mengandalkan Tuhan. Daud sombong dengan jumlah pasukan yang ada.

Sebenarnya Yoab sebagai Panglima sudah mengingatkan Daud akan hal ini. Di dalam 1 Tawarikh 21:3 dikatakan, “Kiranya Tuhan menambahi rakyat-Nya seratus kali lipat daripada yang ada sekarang. Ya tuanku Raja, bukankah mereka sekalian hamba-hamba tuanku, mengapa tuanku menuntut hal itu? Mengapa orang Israel harus menanggung kesalahan akan hal itu?” ternyata seorang panglima lebih bijak daripada seorang Raja…hehehe…. Kalo iblis sudah memperdaya, maka siapapun bisa tertipu dan jatuh dalam dosa.

Maka dikatakan, Yoab dan panglima lainnya terpaksa menuruti titah Daud Rajanya (1 Taw. 21:4; dan seluruh panglima tentara 2 Sam. 24:4). Ini menunjukkan betapa setianya seluruh panglima Daud kepada Daud sebagai orang pilihan Allah.

Bersyukur Daud sadar dan ia Raja yang bijak. Ia memohon kepada Tuhan agar hukuman yang didapat tidak ditimpakan kepada rakyatnya melainkan kepada dirinya dan keluarganya.
Kita melihat para pahlawan Daud begitu setia kepada Daud.

Bagaimana dengan di Ibrani? Di dalam ayat 35b dikatakan, “tetapi orang-orang lain membiarkan dirinya disiksa dan tidak mau menerima pembebasan, supaya mereka beroleh kebangkitan yang lebih baik.” Mereka lebih suka berada di dalam penderitaan di dalam mempertahankan nama Tuhan dibandingkan harus bebas dari penderitaan namun nama Tuhan disangkalnya. Di dalam ayat 39 pun dijelaskan bahwa, “mereka semua tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, sekalipun iman mereka telah memberikan kepada mereka suatu kesaksian yang baik.” Artinya, apa yang mereka perjuangkan dan pertahankan mungkin waktu itu mereka tidak melihat hasilnya, tetapi mereka tetap setia melakukannya. Sekrang kita yang menerima hasilnya sebenarnya. Kita bisa menikmati Alkitab yang sudah dipertahankan dengan banyak darah dan air mata. Kita bisa menikmati ibadah pada malam ini karena ada banyak misionaris yang berkorban datang ke Indonesia memberitakan Injil. Ini adalah hasil kesetiaan para pahlawan iman yang meskipun tidak melihat buahnya saat itu tetapi mereka tetap berjuang dan berkorban.

John Huss dan Polikarpus ketika menjalani penderitaan mereka akibat membela nama Yesus mungkin saat itu tidak melihat buahnya, tetapi mereka tetap setia melakukannya.
Bagaimana dengan kita? apakah kita pun setia meskipun tidak terlihat hasilnya atau buahnya?

Tuhan Yesus adalah pahlawan kita yang sejati. Ia pahlawan dari segala pahlawan yang ada di dalam sepanjang sejarah hidup manusia. IA MENEBUS DOSA KITA.

APA RESPON KITA AKAN KASIHNYA SELAIN DARIPADA HIDUP KITA MEMULIAKAN NAMANYA? MAUKAH ENGKAU MENERUSKAN PERJUANGAN PARA PAHLAWAN IMAN? MAUKAH ENGKAU MELAKUKANNYA DENGAN SETIA?

Friday, June 20, 2008

The Call

Panggilan adalah kebenaran bahwa Allah memanggil kita bagi diri-Nya sendiri dengan cara yang sedemikian menentukan sehingga segenap diri kita, segenap hal yang kita lakukan, dan segenap milik kita dipenuhi dengan devosi, dinamisme, dan arah yang khusus yang dijalankan sebagai satu tanggapan terhadap seruan-Nya dan sebagai pelayanan bagi-Nya.
OS GUINNESS
The Call

Tuesday, June 17, 2008

Petrus dan Yudas--murid sejati dan gadungan

Petrus dan Yudas adalah sama-sama murid Tuhan Yesus. Tetapi salah satu dari mereka adalah murid Yesus yang sejati dan yang satunya lagi hanyalah murid Yesus gadungan/palsu. Tentu kalian tahu yang mana yang sejati dan yang mana yang gadungan. Tetapi pertanyaannya sekarang, apakah saudara2 tahu, saudara2 murid yang bagaimana, murid Yesus yang sejatikah, atau jangan2 gadungan?

Ada seorang profesor yang sangat pintar sekali dan sudah seringkali memberikan ceramah di berbagai universitas terkenal. Profesor ini pergi kemana-mana dengan seorang supirnya yang setia dan selalu mendengarkan ceramah dari profesor ini. Suatu ketika, profesor ini begitu sibuk dan lelah karena ceramah yang banyak itu. Terpikirlah oleh profesor ini untuk mendandani supirnya menggantikan dia berbicara di sebuah universitas agar dia bisa sejenak beristirahat. Karena supir ini sering mendengar ceramah profesor ini yang sama maka supir inipun memberanikan diri dan memang tidak bisa menolak profesor ini, takut dipecat! Supir ini sudah didandani dengan keren layaknya seorang profesor dan tibalah mereka di sebuah universitas. Dengan gagahnya supir dan profesor ini masuk ke dalam dan supir ini pun memberikan ceramah persis seperti yang disampaikan oleh sang profesor. Semua orang bertepuk tangan setelah supir ini menyampaikan ceramahnya. Ternyata waktu itu ada sesi tanya jawab dan seorang mahasiswa mengajukan sebuah pertanyaan yang sulit sekali bagi supir ini untuk menjawabnya. Tetapi supir ini tidak kehabisan akal. Supir ini menjawab, “bagus sekali pertanyaan saudara. Tetapi pertanyaan ini terlalu mudah bagi saya. Bahkan supir saya yang duduk di belakang itu saja bisa menjawabnya. Tolong supirku, jawab pertanyaan yang mudah ini kamu pasti bisa!”

Ada banyak orang yang mengaku sebagai murid Kristus yang sejati. Dari tampak luar mereka dengan rajinnya dan salehnya melakukan kegiatan-kegiatan rohani. Setiap minggu ke gereja, mengikuti kegiatan gereja, memiliki banyak teman di gereja, yang pada intinya mereka berkecimpung di dalam komunitas kristiani, bahkan ada orang yang mengaku murid Kristus yang sejati karena sejak lahir sudah dibawa ke gereja oleh orang tuanya (orang-orang Papua sangat yakin akan hal ini. Mereka menyangka dengan status mereka sebagai orang Kristen sejak kakek nenek mereka, mereka ke gereja setiap minggu sudah menjamin bahwa mereka adalah anak Tuhan. Tetapi justru kehidupan di Papua kehidupan yang rusak, HIV AIDS paling besar di sana, orang mabuk ada di mana-mana, percaya kepada tahayul2. Berada di komunitas Kristen tidak menjamin seseorang sudah menjadi anak Tuhan).
Memang salah satu ciri seorang murid Kristus yang sejati adalah ia berada di tengah komunitas kristiani, ia tidak berdiri di jalan orang berdosa dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh (Mzm. 1:1), tetapi ada juga orang-orang yang mengaku-ngaku murid Yesus berada di dalam kumpulan anak Tuhan. Yohanes berkata benar di dalam 1 Yohanes 2:19, “Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. tetapi hal itu terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita.”

Inilah yang terjadi di dalam kehidupan Petrus dan Yudas. Selama ± 3 tahun mereka berada di sebuah komunitas yang teragung sepanjang sejarah manusia yaitu komunitas bersama-sama Tuhan Yesus. Ini sebuah kesempatan yang sangat istimewa berada di bawah bimbingan dan ajaran Tuhan Yesus. Mereka mendengar Tuhan Yesus mengajar dan berkhotbah, menyaksikan mujizat yang Tuhan Yesus lakukan, melayani orang banyak bersama dengan Tuhan Yesus, dan banyak hal lagi yang bisa mereka saksikan dan alami seperti yang Rasul Yohanes katakan di dalam 1 Yohanes 1:1, “Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman Hidup . . .”.

Tetapi di dalam kehidupan akhir dari kedua orang ini kita melihat sebuah perbedaan yang kontras sekali terjadi. Petrus melayani Tuhan memberikan seluruh hidupnya sampai mati untuk pekerjaan Tuhan, sedangkan Yudas memilih dengan kehendaknya sendiri mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di sebuah pohon.

Apakah sebenarnya yang membedakan kedua sosok ini sehingga yang satu memiliki hidup yang berarti sebagai murid Kristus yang sejati, sedangkan yang satunya lagi hidupnya adalah kesia-siaan belaka sebagai murid Kristus yang gadungan?

Mari kita baca Yohanes 13:5-11, 21-30

Ada 2 hal yang mendasari apakah kita adalah murid yang sejati atau gadungan?

1. DiPilih oleh Allah (lahir baru)
Petrus adalah orang yang dipilih Allah untuk masuk ke dalam komunitas-Nya yang baru sedangkan Yudas tidak (13:18). Petrus mengalami apa yang namanya lahir baru sedangkan Yudas tidak pernah lahir baru.

Apa jaminan bahwa Tuhan memilih seseorang untuk diselamatkan? Perkataan-Nya yang ya dan amin! Ia akan menepati setiap perkataan-Nya.

Perkataan yang Tuhan Yesus sampaikan malam sebelum Ia disalib itu adalah bahwa murid-murid-Nya sudah “bersih,” hanya tidak semua “bersih.” Apa artinya perkataan Tuhan ini? Artinya adalah Iman mereka sudah dijamin dan akan dipelihara selama-lamanya oleh Tuhan Yesus.

Ketika Tuhan Yesus membasuh kaki murid-muridnya malam sebelum Ia disalib, sampailah Ia kepada kaki terakhir yaitu Simon Petrus. Pembasuhan kaki Yesus menunjukkan 2 hal:
a. Memberikan teladan akan kerendahan hati seorang pemimpin (13:15).
b. Memberikan jaminan kepada murid-murid-Nya bahwa mereka akan dibersihkan dari dosa mereka dan menjadi milik Allah. Mereka tidak akan terhilang meskipun kalau kita lihat pada saat disalib, iman mereka goncang dan mereka melarikan diri semua, tetapi ada pemeliharaan tangan Tuhan atas iman mereka.

Nah, poin kedua ini sebenarnya tidak dipahami Petrus. Petrus tidak tega melihat Yesus membasuh kakinya yang kotor itu (Petrus hanya melihat secara lahiriah). Tetapi Tuhan menegaskan kepadanya bahwa basuh kaki ini menjadi lambang kesatuan dengan Dia (secara rohani; 13:8b, “Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku”). Mendengar hal itu, Petrus langsung spontan menginginkan seluruh tubuhnya dibasuh karena pikirannya adalah bukankah akan lebih maknyus/tokcer/mantap kalau semuanya saja? (lahiriah lagi karena Petrus selalu ingin lebih daripada teman-temannya).

Maka Tuhan Yesus menjelaskan secara lahiriah juga tanpa meninggalkan makna rohaninya (Pintar!). Tuhan menjelaskan dengan bahasa sehari-hari di mana kalo sudah mandi, maka semua sudah bersih kecuali kaki, karena kaki orang pada zaman itu hanya memakai kasut yang terbuka (tidak seperti sepatu sekarang) sehingga ada banyak debu dan kotoran yang selalu mampir ke kaki mereka. Tetapi Ia kembali lagi kepada maksudnya bahwa kamu sudah bersih, hanya tidak semua. Artinya, ada 2 pengertian:
- Kamu sudah bersih tetapi hanya kaki yang masih kotor karena itu saya bersihkan (lahiriah).
- Kamu sudah dijamin keselamatannya oleh Aku (rohani) tetapi tidak semua—mengacu kepada Yudas.

Tuhan memilih dan menjamin iman mereka akan tetap di dalam-Nya berdasarkan kasih dan rencana-Nya. Pilihan Tuhan tidak berdasarkan apakah Petrus dan murid-murid yang lain lebih baik daripada Yudas. Kita tidak tahu mengapa kita dipilih Tuhan, tetapi kita bisa tahu Bagaimana kita dipilih Tuhan? Melalui apa? apa jaminannya? perkataan-Nya/firman-Nya yang ya dan amin.

Firman Tuhan katakan, “setiap orang yang mengaku dengan mulut dan percaya dalam hati, maka akan diselamatkan.” Apakah engkau pernah mengambil komitmen untuk melakukan hal demikian? Kalau ya, maka Roh Kudus sudah bekerja di dalam hatimu dan membuatmu mengenal-Nya dan percaya kepada-Nya. Percayalah bahwa engaku dipilih oleh Tuhan menjadi anak-anak-Nya. Tetapi kau pun harus buktikan bahwa kau memang adalah orang yang dipilih Tuhan dengan menjadi murid yang sejati di dalam perkataan, perbuatan, dan tingkah lakumu.

Seorang murid yang sejati akan rindu bertumbuh di dalam pengenalan firman Tuhan! Seorang murid yang sejati akan rindu melayani Tuhannya! Seorang murid yang sejati akan rindu untuk hidup menjaga kekudusan, berjuang meninggalkan dosanya! Apakah engkau murid Yesus yang sejati?
pertanyaannya sekarang adalah, apakah Tuhan tidak adil dengan memilih Petrus dan tidak memilih Yudas? TIDAK! Memang Tuhan memilih seturut kehendak-Nya, tetapi Yudas memilih jalannya dengan kehendaknya sendiri, bukan Tuhan yang menjerumuskan dia.

2. Kehendak manusia
Di dalam Injil Yudas yang menghebohkan beberapa waktu lalu, Yudas digambarkan sebagai seseorang pahlawan yang berjasa karena pengorbanannya sehingga misi Tuhan Yesus dapat terlaksana. Tanpa dirinya maka Yesus tidak akan disalib. Benarkah demikian? TIDAK! Yudas melakukan semuanya itu karena kehendaknya sendiri. Ia sudah menjual Tuhan Yesus hanya karena ketamakannya kepada uang. Setelah Yudas dirasuk oleh roh jahat maka Tuhan berkata kepada Yudas, “Apa yang hendak kau perbuat, perbuatlah dengan segera. (ay. 27)” manusia memiliki kehendaknya sendiri untuk melakukan dosa. Yakobus 1:14-15 berkata, “tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa, dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.”

Jangan salahkan Tuhan kalau kau kecanduan drugs, rokok, pornografi, judi dan semua sekarang atau nantinya akan menyengsarakanmu. Itu semua karena engkau yang memilihnya sendiri dan menikmatinya di dalam dosamu.

Tetapi sekarang belum ada kata terlambat. Kalau firman Tuhan hari ini berbicara secara pribadi di dalam hatimu, membuat hatimu menyesal dan malu akan segala dosamu, maka Tuhan ingin membuat perubahan di dalam dirimu. Bukan hanya menolongmu keluar dari masalahmu atau menolongmu kuat menghadapi masalahmu, melainkan menyambut engkau di dalam komunitas-Nya yang baru.

Seorang murid yang sejati adalah yang kehendaknya dikuduskan oleh Tuhan dan dengan rendah hati kehendaknya diletakkan di bawah kaki Tuhan. Sedangkan murid yang gadungan, akan senantiasa menuruti keinginan hatinya dan melawan kehendak Tuhan.

Maukah engkau menanggalkan kehendakmu dan membiarkan Tuhan menguduskan kehendakmu sehingga bukan dosa lagi yang kau ingin lakukan, melainkan melakukan kehendak Tuhan? Seperti yang Petrus lakukan semasa hidupnya, ia melayani dan mengikuti Tuhan seumur hidupnya. Kalau engkau mau, maka engkau adalah murid yang sejati, bukan gadungan.
khotbah disampaikan di komisi Pemuda GKKB jemaat Pontianak

Sunday, June 8, 2008

Berada di Borneo Barat.

Borneo Barat (Kal-Bar) tepatnya di kota Pontianak baru saja saya jajaki selama 3 minggu. tepatnya saya berada di sebuah gereja Tiong Hua bernama GKKB (gereja Kristen Kalimantan Barat), sebuah gereja Injili yang besar dalam kuantitas, memiliki sekolah Imanuel yang besar pula kuantitas muridnya, memiliki panti jompo dan panti asuhan yang baru mulai berkarya, dan pelayanan lainnya.

Pekerjaan Tuhan di tempat ini begitu besar bagi saya karena di dalam gereja sendiri, ada begitu banyak anak Tuhan yang perlu dibimbing dan dibina, sedangkan di luar sana ada banyak orang yang begitu "kuning" padinya dan siap untuk dituai.

Saya sendiri merasa sulit beradaptasi karena:
1. Bahasa. Bahasa yang sangat umum di kota Pontianak adalah Tiociu sedangkan di daerah kampung sekitar Pontianak berbahasa Hakka. Sedangkan saya? hanya bisa berbahasa Indonesia dan Hokkian "tam po-tam po."
2. Kultur. di sini sangat Chinese sekali kulturnya, sedangkan saya sudah bercampur aduk antara Chinese, Betawi, Jawa, Sunda, sedikit Papua....:d
3. reposisi. penggantian pembina di gereja dari seorang pendeta kepada saya mengharuskan saya ekstra keras beradaptasi dengan cepat.

Semoga Tuhan terus membuat saya mau belajar dan diajar! Ingat saya dalam doamu.

Pro Christus
KG

Saturday, May 10, 2008

KANON (7)

KESIMPULAN

1. Allah yang menginspirasikan, Allah juga yang menguasai, membimbing, melengkapi umat-Nya untuk mengenali karya khusus-Nya itu. Allah yang memperkenalkan karya-Nya, Allah juga yang memelihara karya-Nya melalui umat-Nya.

2. Allah juga yang pada waktunya, melalui proses yang bertahap untuk merangsang pengenalan, pengumpulan dan pengkonformasian keseluruhan kanon itu secara utuh.

3. Dalam semuanya ini perlu diperhatikan bahwa yang menjadikan suatu kitab atau tulisan atau surat bersifat kanonikal bukanlah manusia, umat Allah, bapa-bapa gereja ataupun konsili-konsili gerejawi, melainkan inspirasi Allah yang ditetapkan dan dilakukan-Nya—sebagai ciri kanon—dapat dikenali oleh umat Allah.

4. Semenjak kanon Alkitab dikonformasikan, Alkitab sudah lengkap dan tidak mengalami penambahan tulisan/sisipan apapun lagi. Allah dapat dan berhak untuk membuat manusia menemukan apa yang sudah diinspirasikan-Nya, namun sampai sekarang belum ditemukan. Ia juga berhak dan dapat—kalau mau—menginspirasikan kitab/tulisan yang lain untuk ditambahkan pada kanon yang sudah ada sekarang. Tetapi:

a. Kita tidak boleh lupa bahwa Allah pun berhak dan dapat menilai serta menutup kanon seperti yang sudah ada sekarang, karena itu sudah direncanakan dan dinilai cukup bagi manusia untuk mengenal jalan keselamatan dan hal-hal lain berkenaan dengan keselamatannya.

b. Sampai saat ini kita sudah melihat bahwa melalui sejarah, kanon Alkitab sudah selesai, lengkap dan tertutup.

c. Bahkan dalam Alkitab sendiri ada petunjuk tentang hal ini:
v Sejak nabi terakhir Maleakhi, tradisi Yahudi mengenal “silent years” selama 400 tahun. Maksudnya, selama itu tidak ada wahyu yang diberikan, termasuk inspirasi; sejak itu kanon PL sudah ditutup.
v Dalam Wahyu 22:18-19 ada peringatan yang dilontarkan bagi barangsiapa yang mengurangi atau menambahkan apa yang sudah tertulis.

d. Di atas semua itu kita sudah memegang prinsip/kepercayaan bahwa seluruh proses kanonisasi berada di bawah control Roh Kudus, sehingga segala kekeliruan atau kelalaian berupa terlewatnya satu atau lebih kitab/surat, di rasa tidak masuk akal. Kalaupun ada perbantahan, akhirnya kita melihat penyelesaian yang di luar batas pengertian manusiawi semata (perhatikan kasus kitab Ester, surat Yudas, 2 Petrus, dan lain-lain).

e. Jikalau terjadi penambahan atau pengurangan dari/terhadap kanon yang sudah ada sekarang, maka ini dapat menimbulkan akibat:
Ø Kegoncangan terhadap standar iman, karena belum lengkap atau ada yang dianggap tidak relevan sehingga dikurangi.
Ø Kegoncangan dalam hal doktrin keselamatan dan keselamatan itu sendiri, karena apa yang sudah tertulis, yang merupakan kesaksian tentang keselamatan di dalam Kristus, ternyata belum sempurna.

Sunday, May 4, 2008

KANON (6)

BEBERAPA ASPEK YANG PERLU DIPERHATIKAN?:

1. Pembaca modern adalah fihak yang hidup sejauh ± 2000 tahun dari kejadian yang sebenarnya. Masalahnya kita tidak memiliki fakta-fakta yang lengkap untuk setiap kejadian.

2. Kita seharusnya menyakini bahwa para saksi mata (penulis-penulis Alkitab) adalah pribadi-pribadi yang dapat dipercaya. Mereka telah melaporkan apa yang mereka lihat, saksikan sebagaimana adanya.

3. Kita harus percaya bahwa untuk setiap pertanyaan/problem terdapat jawaban/penjelasan yang memadai. Bahkan, hal-hal yang kelihatannya seperti berkontradiksi akan memiliki jawaban dari dalamnya.

Tuesday, April 29, 2008

KANON (5)

Perjanjian Baru

1. Situasi sebelum terjadinya kanonisasi PB:

a. Bertumbuhnya suatu penghormatan dan penghargaan terhadap tulisan para rasul yang dipelihara dan dianggap bernilai. Sebelumnya hanya PL dan perkataan Yesus yang tertulis yang dianggap berotoritas, sedangkan yang lain hanya sebagai tulisan suci. Sekali lagi di sini nyata penguasaan dan pengarahan Roh Kudus atas umat-Nya untuk mengenali inspirasi-Nya.

b. Bertumbuhnya gereja menimbulkan kebutuhan adanya standar iman dan perbuatan yang lengkap, atau dengan kata lain, kebutuhan teologi dan etika. Bagaimanakah cara gereja memecahkan suatu persoalan teologis dan praktis?

c. Waktu itu biasanya kepada jemaat dibacakan surat dari para rasul yang disampaikan kepada mereka secara bergilir (1Tes. 5:27; Kol. 4:16). Sampai di sini mereka menemukan sedikit permasalahan, karena kutipan-kutipan yang dibuat oleh bapa-bapa gereja untuk mendukung penjelasan mereka dalam menangani kasus ternyata ada yang merupakan campuran kitab kanon dan Apokrifa (mis. Tatian dalam “Diatessaron” dan Justin Martir dalam “Memoris”).

d. Timbulnya ketidaksamaan sikap penerimaan terhadap tulisan-tulisan apostolic oleh beberapa bapa gereja, misalnya:
Ø Teofilus dari Antiokhia mengutip dari kitab Markus dan Yohanes dengan catatan sebagai yang dibawa oleh Roh (Spirit Bearers). Tetapi waktu mengutip dari surat-surat Paulus, ia tidak menunjukkan sikap sebagai seorang pengutip yang mengutip dari tulisan kudus.
Ø Tatian dalam mempersiapkan “harmoni dari Injil-Injil”-nya, “The Diatessaron” (ca. 170) hanya memasukkan ke-4 injil dan kemudian juga menerima pengaruh surat-surat Paulus. Tetapi kemudian Jerome menolak beberapa kitab/surat Paulus.

e. Timbulnya bidat-bidat:
ü Pada 140 AD, Marcion mengajarkan suatu ajaran tentang perbedaan Allah PL dan PB. Ia menolak PL dan dalam kanonnya ia hanya mengakui beberapa kitab tertentu sebagai firman Allah (mis. Hanya injil Lukas).
ü Efek dari konflik dengan gnostisisme. Gnostisisme yang mulai berkembang sejak abad kedua merasa perlu memiliki literature yang kudus dan mereka menolak PL. Mereka menciptakan kitab-kitab Injil yang baru untuk menjadi dasar bagi doktrin, pengajaran, dan kepercayaan mereka, misalnya injil Petrus, injil Tomas, injil Filipus, Injil kebenaran, dan lain-lain.

f. Rangsangan misi
Injil sudah mulai tersebar ke mana-mana sehingga dibutuhkan Kitab Suci bagi umat percaya dari suku dan bahasa yang berbeda. Untuk itu perlu dilakukan penerjemahan Kitab Suci, dan dengan demikian perlu dikenali dan disusun suatu kanon yang sah dan lengkap.
Semua ini merupakan suatu situasi atau rangsangan yang secara tidak langsung menimbulkan suatu kebutuhan untuk mengumpulkan dan menyatukan kitab-kitab kanonikal dan mengkonfrontasikannya sebagai kanon Alkitab yang menjadi dasar dan standar iman kepercayaan dan perbuatan umat Kristen. Kendati demikian, di balik semua itu, sebenarnya peranan Roh Kuduslah yang telah mengarahkan dan mewujudkan kebutuhan kanonisasi kitab-kitab yang diinspirasikan Allah pada umat-Nya itu. Dengan demikian timbulnya kanon Alkitab sama sekali bukan karena keinginan dan situasi yang bersifat manusiawi, melainkan berasal dari ketetapan dan rencana Allah Tritunggal yang sempurna di dalam dan melalui sejarah manusia.

2. Proses kanonisasi[1]

Secara singkat proses kanonisasi berlangsung melalui beberapa tahap:

a. Selecting Procedure, dilakukan oleh para rasul atau di antara para rasul/penulis kitab kanonikal itu sendiri.
v Yohanes 20:30 Ia menyeleksi apa yang ditulisnya.
v Lukas 1:1-4 Menunjukkan ada banyak tulisan/sumber lain, sebelum Lukas menyelidiki dan menyeleksinya untuk menyusun tulisannya.

b. Reading Procedure. Ciri kitab kanon adalah adanya suatu perintah untuk membacakannya berulang kali di gereja atau perkumpulan umat percaya. Ini menunjukkan adanya otoritas dalam tulisan itu yang melalui proses pembacaan dapat dikenali (1Tes. 5:27; Why. 1:3).

c. Circulating Procedure. Tulisan-tulisan yang dibacakan sebagai suatu karya tulis yang berotoritas di hadapan gereja-gereja itu diedarkan dan dikumpulkan oleh gereja-gereja (Why. 1:11; yang diedarkan di sekitar gereja-gereja di Asia kecil).

d. Collecting Procedure. Prosedur ketiga (Circulating) akan membawa pada suatu kebiasaan/tindakan untuk mengumpulkan tulisan-tulisan profetik dan apostolik itu. Misalnya, pada waktu surat 2 Petrus ditulis (66 AD), surat-surat Paulus sudah dipandang sebagai kanon dan sudah dikumpulkan (2Ptr. 3:15-16).

e. Quatation Procedure. Ketika Yudas dalam suratnya mengutip dari surat Petrus (Yud. 17-18; 2Ptr. 3:3), ia bukan hanya menerima tulisan Petrus sebagai karangan/tulisan biasa, melainkan sebagai suatu tulisan yang berotoritas, yaitu yang bersifat kanon. Begitu juga ketika Paulus mengutip tulisan Lukas (Luk. 10:7) dalam suratnya kepada Timotius (1Tim. 5:18).

f. Pengakuan oleh para tokoh gereja dan konsili-konsili:
· Antar abad 3-4 AD sebenarnya sudah ada tokoh/bapa gereja yang menerima dan menyusun tulisan/kitab yang sudah melalui prosedur di atas secara utuh, seperti yang kita miliki sekarang.
· Berdekatan dengan waktu itu juga susunan kanon itu dikonformasikan melalui konsili-konsili gerejawi, misalnya: Nicea (325-340), Hippo (393), dan Kartago (397 dan 419).

[1]Geisler dan Nix, General Introduction 184-186.