Sunday, December 7, 2008

Waktu dan hikmat


2 Raja-raja 20:1-11

Alkisah hidup seorang guru silat yang sudah sangat tua. Ia mempunyai dua murid yang masing-masing rajin dan semangat belajar silat. Untuk mewariskan perguruannya, ia harus memilih yang terbaik dari keduanya. Setiap mereka diadu kekuatannya, hasilnya selalu seimbang. Untuk mengetahui mana di antara mereka yang lebih baik dan lebih cerdik, guru tersebut terpaksa menggunakan cara lain.

Suatu tengah malam, guru tersebut memanggil kedua muridnya dan memberi mereka tugas, "Besok pagi kalian pergilah ke hutan mencari ranting pohon. Siapa yang pulang dengan hasil yang terbanyak, dialah yang keluar sebagai pemenang.” "Waktu yang tersedia untuk kalian adalah jam lima pagi sampai jam lima sore." Kemudian guru tersebut berkata, "Ini adalah dua bilah parang yang dapat kalian gunakan, ada pertanyaan?" "Tidak." "Baiklah kalau begitu, sekarang, kalian cepatlah beristirahat dan besok bangun lebih pagi,"

Di pikiran murid yang pertama langsung terbayang bahwa keesokan harinya ia harus bekerja lebih keras dan lebih serius karena waktunya terbatas. ia pun pergi tidur.

Murid kedua tidak langsung tidur tetapi memikirkan pekerjaannya besok. Ia memeriksa parang yang disediakan oleh gurunya, dan ternyata parang tersebut adalah parang tua yang sudah tumpul. Maka, ia pun memutuskan, besok sebelum berangkat ia akan mencari batu asah untuk mengasah parangnya agar menjadi tajam.

Lalu ia berpikir lagi, bagaimana cara membawa ranting pohon lebih banyak. Sementara temannya sudah tertidur lelap, ia masih mondar-mandir di depan kamarnya, memikirkan cara terbaik untuk membawa ranting dengan jumlah lebih banyak. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya ia memutuskan untuk menyiapkan tali dan tongkat. Ia akan memikul ranting menggunakan tongkat pikulan. Paling tidak, ia bisa membawa dua ikat besar ranting-satu di depan dan satu lagi dibelakang. Dengan perasaan puas, ia pun pergi tidur.

Keesokan harinya, murid pertama yang sudah berencana akan bekerja keras, bangun tepat waktu dan langsung berangkat ke hutan. Sementara itu, murid kedua masih tidur karena tidurnya terlalu malam memikirkan strategi. Tepat jam enam pagi, murid kedua bangun. Sesuai rencana, ia segera mencari batu asah dan mengasah parangnya sampai benar-benar tajam. Kemudian ia mencari tali dan tongkat pikulan. Setelah semua perlengkapan siap, ia segera berangkat ke hutan, jam menunjukkan pukul tujuh lebih.

Ketika jam menunjukkan pukul satu siang, murid kedua sudah berhasil mengumpulkan ranting cukup banyak. Ia segera mengikatnya menjadi dua dan memikulnya pulang. Sesampainya di rumah, diserahkannya ranting-ranting tersebut kepada gurunya. Ia berhasil mendapat banyak ranting dan pulang lebih cepat. Sementara itu, murid pertama, karena tidak mengasah parangnya, harus menggunakan waktu dan energi yang lebih besar untuk memotong ranting pohon. Dengan demikian ia juga memerlukan waktu yang lebih banyak untuk beristirahat karena kelelahan. Belum waktu yang ia gunakan untuk mencari tali pengikat. Selain itu, dengan caranya membawa ranting kayu yang dipanggul di pundaknya, jumlah yang bisa dibawanya juga terbatas.

Apa pelajaran yang bisa dipetik dari cerita ini? Waktu manusia sudah ditentukan dan diatur oleh Allah, waktu yang terbatas ini bagaimana manusia menjalaninya? Ada dua jenis orang: (1) Ada orang yang memiliki waktu tetapi tidak memiliki hikmat, sehingga yang dijalaninya hanyalah kesia-siaan. Tetapi kalau kita renungkan, (2) ada orang yang berhikmat tetapi waktunya singkat baginya, ada orang yang baru menyadari hidup ini harus memuliakan Tuhan, tapi sudah harus dipanggil Tuhan. Kedua hal inilah yang terjadi dengan hizkia.

Siapakah Hizkia?

Hizkia selama hidupnya berhikmat dan menjalani hidupnya sungguh-sungguh sehingga di dalam 2 Raja-Raja 18:3, Hizkia dikatakan raja Yehuda yang melakukan apa yang benar di mata Tuhan, tepat seperti yang dilakukan Daud, bapa leluhurnya. Luar biasa, Hizkia dibandingkan dengan Daud, orang yang dikatakan berkenan di hati Allah dan melakukan segala kehendak-Nya (Kis. 13:22).

Tetapi waktu dia sudah usai. Di pasal 20:1, Hizkia jatuh sakit dan Tuhan berkata “engkau akan mati.” kita melihat bahwa waktu itu singkat. Siapapun kita, betapa kayanya kita, betapa terkenalnya kita, betapa pintarnya kita, betapa cantiknya kita, ketika Tuhan berkata engkau akan mati, maka apa yang kita punya kita tinggalkan di dalam dunia. Seorang raja menyadari akan hal ini, dan sebelum dia mati, dia memerintahkan pengawalnya untuk membuat peti mati yang disampingnya ada lubang, untuk apa? agar tangannya bisa dikeluarkan dan menunjukkan bahwa ia mati dengan tangan yang kosong.

Hizkia adalah orang yang berhikmat tetapi tidak memiliki waktu. Ia tidak kuasa menahan kematian dari Allah.

Tetapi Tuhan dengan segala rencana-Nya menyembuhkan Hizkia dan tidak hanya itu, Hizkia diberi tambahan umur/waktu 15 tahun. Hizkia punya waktu tetapi kali ini ia tidak punya hikmat. Ia justru berbuat hal yang tidak berkenan di hati Tuhan. Inilah yang dinamakan orang yang memiliki waktu tetapi tidak berhikmat. Hizkia menjadi contoh manusia pada umumnya di mana waktu dan hikmat tidak pernah berjalan bersama-sama. Pagi ini, kita yang duduk, kita diingatkan bahwa kita punya waktu dan diberi hikmat oleh Tuhan untuk menjalaninya. Selama kita masih hidup maka kita harus menjalaninya dengan bijaksana.

Hizkia tidak berhikmat di dalam menggunakan waktu yang ada, padahal Tuhan punya rencana indah dalam hidupnya. Janji Tuhan kepadanya adalah, “Aku akan melepaskan engkau dan kota ini dari tangan raja Asyur; Aku akan memagari kota ini oleh karena Aku dan oleh karena Daud, hamba-Ku" (ay. 6). Memang bangsa Israel lepas dari bangsa Asyur tetapi karena kesombongan Hizkia, maka Tuhan menghukum bangsa Israel kepada bangsa Babel (ay. 12-21).

Rencana Allah dalam hidup kita

Seperti Hizkia, Tuhan pun memiliki rencana dalam hidup setiap kita. karena Tuhan menciptakan kita dengan sebuah maksud. Banyak orang berkata, “untuk apa Tuhan menciptakan saya?” Untuk apa saya ada di dunia ini? Westminster cathecismus memberikan jawaban, “tujuan hidup manusia adalah memuliakan Allah dan menikmati Dia selama-lamanya.”

Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik [memuliakan Allah], yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya [menikmati Dia selama-lamanya]. (Ef. 2:10).

Apa rencana Tuhan dalam hidup SS sekalian? Pernahkah SS merenungkan panggilan hidup SS? Apakah kita pernah merenungkan bagaimana saya dapat menyenangkan hati Tuhan dengan hidup saya ini? Jangan-jangan selama ini setelah puluhan tahun kita hidup tetapi belum pernah melakukan sesuatu pun yang menyenangkan hati Tuhan. Hidup dalam dosa, kesenangan duniawi, hidup mencari kepuasan diri sendiri.

Ada sebuah kisah nyata di Amerika, ada seorang pria yang merupakan orang penting dan sibuk. Ia bekerja dari pagi sampai malam setiap hari, bahkan libur pun bekerja. Istrinya selalu mengingatkan dia akan keluarga mereka, anak-anak yang mulai bertumbuh dan membutuhkan dia. Tetapi apa yang dia pikirkan? “saya akan bisa meluangkan waktu lebih banyak bagi mereka dalam 6 bulan ke depan atau lebih, ketika segala sesuatu sudah tenang dan teratur. Toh, bukankah saya melakukan semua ini bagi kebaikan mereka?” ini yang selalu menjadi alasannya. Ini yang selalu menjadi rencana di dalam hidupnya. Ia tidak memikirkan kesehatannya, ia tidak punya waktu ke gereja apalagi baca Alkitab, selalu saja alasannya, saya akan melakukannya kalau semua sudah tenang dan teratur. Suatu hari pimpinannya memerintahkannya mengerjakan proyek besar. Malam itu, ia berkata kepada istrinya, “hidup kita akan segera tenang dan teratur karena keuangan kita akan terjamin, kita bisa pergi berlibur ke manapun kita mau.” Tetapi istrinya sudah mendengar hal ini sebelumnya dan ia tetap pergi tidur sendirian seperti biasanya. Pukul 3 pagi istrinya terbangun dan menyadari bahwa suaminya belum ada di sampingnya, maka ia bangun dan menuju ke ruang kantor suaminya. Ketika istrinya menyentuh tubuhnya, ia tidak merespon dan kulitnya sudah dingin. Ternyata ia terkena serangan jantung dan sudah meninggal beberapa jam yang lalu. Kematiannya menghebohkan komunitas keuangan. Berita kematiannya ditulis di koran-koran dan majalah terkenal. Di dalam pemakamannya, semua teman-temannya memuji dan menyanjung namanya. Mereka membuat tugu peringatan dengan tulisan, “Sukses, pemimpin, pengusaha, inovator.” Tetapi SS tahu bila malam itu ada malaikat datang dan menuliskan sebuah kata di batu peringatan itu, apa yang akan ditulisnya? BODOH!

Di dalam Lukas 12:20, Tuhan berkata kepada orang kaya yang bodoh, “Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Dan Tuhan Yesus menyimpulkan, “Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah apakah ini juga terjadi pada mereka yang kaya? Tidak juga. Yang tidak kaya pun, yang hidup pas-pasan punya sering berkata, “bagaimana saya bisa melayani, memikirkan soal hubungan dengan Tuhan, untuk makan saja saya pusing memikirkannya.” Jadi, orang kaya dan orang tidak kaya sama-sama bodoh bagi Tuhan, kalau mereka tidak kaya di hadapan Tuhan.

Apa itu kaya di hadapan Allah? Menurut John Ortberg:

- kaya di hadapan Allah berarti menumbuhkan jiwa yang semakin sehat dan baik.

- kaya di hadapan Allah berarti mengasihi dan menikmati orang-orang di sekeliling anda.

- Kaya di hadapan Allah berarti belajar mengenai berbagai karunia dan melakukan hal baik untuk membantu memperbaiki dunia ini.

- Kaya di hadapan Allah berarti bermurah hati dengan barang-barang anda.

- Kaya di hadapan Allah berarti membuat apa yang bersifat sementara menjadi hamba dari apa yang bersifat kekal.

Ketika saya menerima panggilan Tuhan, ada lagu yang menguatkan saya untuk kaya di hadapan Allah, “telah lama kucari-cari, langkah hidup yang lebih pasti. Hidup penuh berkem’nangan setiap hari. Suatu saat Yesus panggilku menjadi pekerja, melayani, jadi saksi bagi-Nya.”

Bagaimana kita tahu kalau Tuhan masih ingin memakai kita dalam pekerjaan-Nya? Tuhan memberikan waktu dan hikmat.

Pemberian waktu dan hikmat

Apa itu waktu? Menurut orang barat, “waktu adalah uang.” Menurut orang China, “waktu adalah uang tetapi uang bukanlah waktu karena ada peribahasa China yang berkata—satu inci waktu sama dengan satu inci emas, tetapi satu inci emas tidak dapat menggantikan satu inci waktu.” Tetapi Definisi ini belum tepat karena dunia memikirkan waktu secara dangkal yaitu uang.

Pdt. Stephen Tong memberikan tiga pengertian soal waktu: Saya akan bantu kita memahaminya.

1. Waktu adalah hidup

Menghamburkan waktu berarti menghamburkan hidup. Mungkin kita pernah bertanya kepada seseorang, “Apakah kamu mau percaya kepada Tuhan Yesus? Apakah kamu mau pergi ke gereja untuk mendengar injil? Biasa jawaban yang kita temukan adalah, saya mau, Cuma saya terlalu sibuk! Saya tidak punya waktu! Lucu bukan, mereka menggunakan waktu selama hidup mereka tetapi mereka berkata mereka tidak punya waktu. Hal ini pun sering kali diucapkan oleh kita yang sudah lama percaya kepada Tuhan tetapi ketika ditanya, “apakah kamu mau ambil satu bagian pelayanan di dalam gereja untuk melayani Tuhan?” jawaban kita pun sama! Saya sibuk, tidak punya waktu! SS, mengapa kita berkata demikian? Karena kita tidak memandang hidup itu berharga. Karena kita tidak menggunakan waktu yang singkat ini untuk melihat nilai hidup, makna dan tujuan hidup. Inilah yang menjadikan kita menyerahkan hidup dan waktu kepada uang?

Mau sampai berapa lama lagi kita membuang hidup/waktu ini? Mau tunggu sampai tua baru menyesal karena waktu tidak bisa diputar kembali? Seandainya kita divonis oleh dokter kalau hidup kita hanya tinggal 1 minggu lagi, saya percaya kita akan memandang waktu dengan berbeda. Tetapi apakah mau tunggu sampai demikian?

Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana (Mzm. 90:12). Hitunglah setiap hari apakah kita sudah mempersembahkan waktu, pikiran, kekuatan, kesehatan dan segala yang kita miliki bagi kemuliaan Tuhan?

2. Waktu adalah kesempatan

Di dalam bahasa Yunani, waktu dibagi menjadi dua yaitu kronos dan kairos. Kronos adalah waktu yang berjalan sebagaimana mestinya, tetapi kairos adalah kesempatan atau momen dalam perjalanan waktu kita. kairos ini yang harus kita tangkap dan pergunakan sebaik mungkin. Di dalam mitologi Yunani, dewa kairos dilukiskan dengan kepala botak di bagian belakang dan rambutnya hanya di bagian depan, dan mempunyai sayap di kakinya, sehingga kalau dewa kesempatan lewat, maka berjalan cepat sekali. Dewa kairos jarang lewat, maka manusia harus mencarinya. Kalau dewa kairos itu lewat dan manusia berusaha mengejarnya; ia tidak mungkin dapat mengejarnya, karena ia mempunyai sayap di kakinya. Lagipula kita tidak bisa menangkapnya dari belakang karena kepalanya botak. Tetapi kalau manusia sudah bersiap-siap untuk menangkapnya, sebelum ia tiba, dan begitu ia tiba langsung menangkapnya, masih bisa menangkapnya dengan memegang rambutnya yang di depan.

SS, kita tidak percaya mitologi apapun tetapi ada pelajaran yang berharga yang bisa kita dapatkan. Orang bodoh selalu membuang kesempatan, orang biasa menunggu kesempatan, tetapi orang bijak mencari kesempatan.

Hidup yang masih kita jalani ini adalah kesempatan yang Tuhan berikan, karena kita tidak tahu sampai kapan Tuhan memberikan kita hidup. Karena itu, pakai waktu, kesempatan ini untuk menyenangkan hati Tuhan. Ketika banyak kesempatan disodorkan kepada kita, pilihlah dengan hikmat dari Tuhan yang terpenting sehingga kita dapat maksimal melakukannya.

Hidup ini hanya sekali dan kita tidak akan kembali lagi setelah mati. Selama hari masih siang kita harus melakukan pekerjaan Tuhan; sebab akan datang malam, ketika tidak seorang pun dapat bekerja (Yohanes 9:4)

3. Waktu adalah catatan

SS, segala perkataan saya, tingkah laku saya, khotbah saya tercatat dan terekam sekarang oleh alat ini. Tapi saya percaya bahwa segala yang saya lakukan sekarang sedang dicatat dan direkam oleh Tuhan. Tidak ada yang luput, segala dosa, kesalahan saya tercatat. Karena itu saya harus selalu berhati-hati dalam hidup ini.

Kita tidak dapat sembarangan menjalani hidup kita karena setiap perbuatan kita dicatat oleh Tuhan di surga.

Ada orang Kristen berkata, “kalau Tuhan adalah Mahapengampun dan akan selalu mengampuni dosa saya dan saya adalah orang pilihan Tuhan, maka saya bebas melakukan dosa, toh nanti diampuni Tuhan.” Betul! Kalau kita berbuat dosa dan datang sungguh2 kepada Tuhan minta ampun, Tuhan pasti akan mengampuni kita. berdosa lagi? Datang dan Tuhan ampuni. sampai kapan? Tuhan akan hajar kita dengan keras agar kita sadar dan tidak main-main dengan dosa! tetapi kita harus ingat bahwa segala perbuatan kita akan dicatat dan diperhitungkan pada saat penghakiman nanti.

Orang yang bijak akan menghabiskan waktunya dengan hal-hal yang baik dan berguna. Orang yang bodoh akan menghabiskan waktunya dengan hal-hal yang tidak baik dan sia-sia.

Kalau kita bertemu dengan Tuhan sekarang, coba pikirkan, kira-kira apa yang Tuhan catat mengenai hidup kita?

Bagaimana respon kita? setelah mendengar firman Tuhan hari ini

1. Menyadari bahwa kita harus mempertanggungjawabkan hidup kita kepada Tuhan. Hiduplah bijaksana! Jangan sembarangan!

2. Habiskan waktu kita dengan nilai yang kekal, jangan yang sementara. Apa yang kekal? Tuhan, Jiwa kita, orang-orang di sekitar kita. apa yang sementara? Kekuasaan, harta, uang, kemudaan, dll. Saringlah baik-baik, prioritaskan hidup kita kepada nilai yang kekal. Kalau sekarang sudah lama kita mengabaikan Tuhan, anak, istri, suami, cucu atau orang tua kita karena kita terlalu sibuk bahkan dengan alasan bekerja demi mereka, kita harus berubah!

3. Pikirkan apa yang sedang kita kejar, apakah itu adalah nilai kerajaan surga atau yang sementara sifatnya yang pada akhirnya hanya kita tinggalkan di dunia. Gereja kita terus menantang zaman ini! Gereja kita terus berjalan dalam amanat agung Tuhan. Gereja kita terus berupaya bergerak dalam memuridkan jemaat. Gereja kita terus membangun secara fisik: rumah duka, sekolah, panti. Apakah SS mau bergabung dan menyenangkan hati Tuhan atau hanya menjadi penonton dan menyia-nyiakan hidup ini?

DOA:
Tuhan, aku menyadari selama ini aku belum hidup bijaksana. Aku sudah mengabaikan Engkau, keluargaku, dan pekerjaan Tuhan. Ajar aku, Tuhan, untuk menghitung hari-hariku agar aku beroleh hati bijaksana.

No comments: