Thursday, November 1, 2007

KEKRISTENAN DI TENGAH PELIKNYA MASALAH EKOLOGI (7)

Ayat 21

Ada dua dimensi yang dimiliki oleh kata “kemerdekaan,” yaitu dimensi negatif dan positif. Dimensi negatif yaitu kemerdekaan dari perbudakan kebinasaan jelas berbicara tentang kemerdekan dari dosa (Rm. 6:18, 22) dan hukum (Rm. 7:3; 8:2) yang mempersatukan keduanya sebagai bagian dari periode Adam. Lingkaran kematian yang menjadi karakteristik ciptaan akan berakhir pada saatnya nanti (lih. Kol. 3:4; 1Yoh. 3:2). Sedangkan dimensi positifnya, ciptaan akan masuk ke dalam kemerdekaan anak-anak Allah.

Pengulangan kata kemerdekaan menunjukkan bahwa, pemenuhan keselamatan yang total bagi seluruh ciptaan, hanya terjadi dengan dan hanya karena anak-anak Allah dimuliakan. Pada zaman sekarang, kemerdekaan yang dijanjikan belum sempurna, terkait dengan penderitaan, dosa dan kematian yang masih terjadi. Kemerdekaan akan sempurna ketika Allah menyempurnakan tujuan-Nya di dalam memahkotai manusia dengan kemuliaan (pemahaman doxa[1]; Mzm. 8:6; bdk. secara khusus 4 Ezra 7:96-98).[2]

Pemahaman Paulus mengenai penebusan bagi seluruh ciptaan dapat ditemui juga di dalam tulisan apokaliptik Yahudi.[3] Di dalam tulisan apokaliptik Yahudi, penebusan kepada ciptaan diasosiasikan dengan eskatologi orang percaya, sama seperti kerusakan seluruh ciptaan diasosiasikan dengan dosa manusia. Seluruh ciptaan akan dimuliakan ketika manusia menjadi sempurna dan taat kepada kehendak Allah. Setelah orang-orang tidak percaya dimasukkan ke dalam hukuman kekal dan orang-orang percaya memperoleh hidup kekal, seluruh alam ciptaan Tuhan akan berfungsi kembali secara harmonis (Jubilee; Book of Parables 2; 4 Ezra; 2Bar.; Apocalypse of Moses).[4]

Namun, tidak hanya tulisan apokaliptik Yahudi yang mempengaruhi Paulus. Kitab-kitab PL khususnya Mazmur dan Yesaya, lebih mempengaruhi pemikiran Paulus—sesuai dengan latar belakang Paulus sebagai orang Farisi. Di dalam kisah Nuh—setelah air bah—Allah membuat perjanjian dengan seluruh ciptaan yang ada di bumi ini (Kej. 9:8-12, 16). Perjanjian Nuh ini merupakan perjanjian yang kekal, sehingga di dalam jangkauan dan waktunya bersifat kosmik.[5] Tidak hanya itu, Yesaya 65-66 menceritakan bagaimana Allah menjanjikan pembaharuan bagi langit dan bumi, di mana manusia yang memiliki tubuh yang baru akan tinggal di lingkungan yang layak baginya (bdk. Im. 26:3-6; Mzm. 85:10-13; Yes. 54:9-10; Yer. 31:35-36; 33:20-25; Yeh. 34:25-31; Hos. 2:21-23).[6]

Melalui penjelasan di atas, jelas bahwa seluruh ciptaan (kosmos) itu sendiri harus ditebus, dengan menantikan anak-anak Allah dimuliakan, agar manusia yang telah ditebus dapat memiliki lingkungan yang sesuai dengannya.

Ayat 22

Bagian ayat 22 sepertinya kembali kepada tema di dalam ayat 19 mengenai penantian seluruh ciptaan kepada penyelamatan. Kata “sebab kita tahu” sekali lagi (lih. 2:2; 3:19; 7:14; 8:28) menunjukkan bahwa Paulus mengemukakan pandangan yang sudah umum dipahami di kalangan orang-orang Kristen, maupun mereka yang berada di dalam diaspora, khususnya dari tulisan apokaliptik Yahudi yang berkembang pada waktu itu. Apa yang menjadi pemahaman dari komunitas di atas adalah ciptaan berada di dalam masalah.

Kata groaning together hanya dipakai pada ayat ini.[7] Arti dasar dari kata ini mengekspresikan tekanan jiwa yang dalam; hasil respon dari keadaan yang tidak diinginkan. Seluruh ciptaan mengeluh akibat ditaklukkan kepada kesia-siaan dan kebinasaan, hasil dari kutukan kejatuhan manusia (ay. 20-21).[8] Namun, keluhan ini bukan keluhan yang hanya berfokus kepada kebebasan dari kebinasaan, melainkan kepada pengharapan yang pasti, yang telah dijanjikan.

Tidak jauh berbeda dengan kata groaning together, kata to give birth hanya didapati pada bagian ini saja. Pemahaman kata ini sangat berhubungan erat dengan kata groaning together yang menunjukkan tangisan atau ratapan seorang wanita yang akan melahirkan. Metafora sakit bersalin ini menunjukkan suatu periode penderitaan yang akan segera berakhir untuk memperoleh sesuatu hal yang baru. Hahne menyebutnya sebagai a bipolar metaphor yang mengkombinasikan penderitaan dan hasil masa depan yang positif. Lebih jelasnya, Hahne memberikan dua dimensi pemahaman bagi masing-masing metafora. Bagian penderitaan dapat diartikan kepada kesakitan yang konstan, bergumul dan menderita; dan penderitaan yang terus berlanjut untuk periode tertentu. Bagian hasil masa depan yang positif dapat diartikan kepada sukacita masa depan, yang sangat kontras dengan kesakitan; dan kehidupan baru atau keadaan yang jauh lebih baik dan mulia daripada masa sekarang. Gambaran di atas dirasakan memiliki nuansa eskatologi yang sangat kuat, di dalam tulisan Yahudi (Yes. 13:8; 21:3; 26:17-18; 66:7-8; Yer. 4:31; 2:23; Hos. 13:13; 1QH 3:7-18), maupun tulisan apokaliptik dan rabinik Yahudi (1 Enoch 62:4; 4 Ezra 10:6-16), dan PB (Mrk. 13:8; Kis. 2:24; 1Tes. 5:3; Why. 12:2).

Banyak penafsir yang melihat nuansa eskatologi yang kuat tersebut membawa kepada konsep Paulus mengenai penderitaan kosmik di dalam Roma 8:20-22 sama dengan konsep birth pangs of the Messiah[9] (BPM) yang ada di dalam PL dan literatur Yahudi. Baik Roma 8:20-22 dan ayat-ayat BPM mengacu kepada bencana kosmik eskatologikal yang mendahului zaman baru yang mulia. Namun ada perbedaan yang cukup signifikan dari kedua bagian ini, yaitu:[10]
Pertama, di dalam ayat-ayat BPM, masa tribulasi dari kosmik hanya dalam suatu jangka waktu yang pendek sebelum kedatangan Mesias. Kontras di dalam Roma 8:20-22, seluruh ciptaan menderita sejak kejatuhan manusia sampai akhir zaman. Frasa “sampai sekarang” (ay. 22) menjelaskan bahwa penderitaan dan keluhan ciptaan berlanjut terus untuk jangka waktu yang lama—sejak kejatuhan manusia. Pemakaian frasa ini di bagian PB yang lain (satu-satunya) adalah di dalam Filipi 1:5, yang berarti “right up to the present time.” Arti ini ingin menunjukkan bahwa penderitaan yang dialami ciptaan bukan pencobaan eskatologi yang meningkat yang tepat terjadi sebelum akhir zaman. Tepatnya, penderitaan ini merupakan karakteristik zaman sekarang dan akan berlanjut terus sampai orang-orang percaya dimuliakan (ay. 21).

Kedua, pada sebagian besar ayat-ayat PL dan BPM rabinik, fokus penderitaan lebih kepada manusia dibandingkan kepada ciptaan.[11] Tulisan apokaliptik Yahudi lebih mengarah kepada penderitaan ciptaan, tetapi maksud arahan tersebut tetap kembali kepada penderitaan manusia.

Ketiga, di dalam ayat-ayat tulisan Yahudi, masa tribulasi merupakan bagian dari proses kedatangan Mesias, konsep yang kurang jelas di dalam Roma 8 dan tidak terlalu dikembangkan di dalam PL.

Berdasarkan ketiga perbedaan di atas, konsep Paulus mengenai kosmos yang mengeluh dan sakit bersalin memang tidak sepenuhnya sama dengan BPM, namun demikian tidak dapat dipungkiri ada keterkaitan yang erat ketika berbicara mengenai pergulatan kosmik (cosmic travail).

Ayat 23

Pada ayat 19-22, Paulus menggambarkan kerinduan dan penderitaan yang dialami oleh seluruh ciptaan. Pada ayat 23 ini, Paulus ingin menunjukkan bagaimana orang-orang percaya memiliki kerinduan yang sama. Transisi yang dibuat Paulus, dari ciptaan kepada orang-orang percaya, melalui penggambaran “mengeluh,” “dan bukan hanya mereka [ciptaan yang sama-sama mengeluh] saja, tetapi kita [sendiri][12]. . . juga mengeluh”). Dengan mengatakan bahwa orang–orang percaya mengeluh “dalam hati mereka,” keluhan ini bukan di dalam bentuk verbal yang diucapkan, melainkan yang dirasakan di dalam diri seseorang, melalui tindakan-tindakan. Tindakan ini tidak melibatkan kecemasan mengenai benar atau tidaknya janji penebusan Allah yang sempurna—sebagaimana Paulus tidak memberikan peluang sedikitpun terhadap keraguan akan janji Tuhan (ay. 28-30)—tetapi perasaan tidak puas pada moral dan keadaan fisik yang menjadi bagian antara periode pembenaran dan pemuliaan (lih. 2Kor. 5:2, 4) dan penantian akan masa akhir dari keadaan yang “lemah” ini.

Paulus menggambarkan bahwa setiap orang yang menantikan kemuliaan yang akan datang adalah orang yang memiliki karunia sulung Roh. Kata “karunia sulung” ini menyatukan baik permulaan proses dan hubungan yang tidak tergoyahkan antara permulaan dan akhirnya. Ketika kata ini dimaksudkan dengan Roh Kudus, maka kata ini ingin menunjukkan bahwa karya penebusan Allah yang eskatologi sudah dimulai dan terus berjalan sampai tahap kulminasi nanti. Roh tersebut adalah permulaan penetapan (first installment) akan keselamatan dan jaminan (down payment) yang akan menjaga setiap orang percaya untuk tetap di dalam imannya. Roh tersebut berfungsi untuk menyatukan dua keadaan (already—not yet) eskatologi di mana orang-orang percaya dan seluruh ciptaan sedang “terjebak” di dalamnya. Already, melalui kehadiran Roh Allah yang membawa orang percaya kepada zaman baru; tetapi kenyataan bahwa Roh tersebut hanya “karunia sulung” membuat orang percaya sedih karena belum waktunya (not yet) terbebas dari penderitaan dan dari nikmatnya zaman baru.
Mengapa orang-orang percaya mengeluh? Karena mereka menantikan pengadopsian—pengadopsian menjadi anak-anak Allah (bdk. 8:14-16). Pengadopsian sebagai anak-anak Allah yang belum sempurna itu menantikan kesempurnaannya di dalam pembebasan tubuh orang-orang percaya (the redemption of our bodies). Gambaran pembebasan ini adalah seperti seseorang yang membayar lunas tebusan seorang tawanan dari perbudakan. Penggambaran ini yang digambarkan Alkitab di dalam diri Yesus Kristus yang telah mati di atas kayu salib untuk membayar lunas semua dosa-dosa seluruh dunia. Secara status, setiap orang yang beriman kepada Tuhan akan dibenarkan dan diadopsi menjadi anak-anak Allah. Namun, bila berbicara mengenai manusia dengan perwujudannya secara fisik—sōma as the embodiment of the person[13]—setiap orang percaya belum layak dan sesuai dengan statusnya sebagai anak Allah. Tubuh lama yang dikenakan sekarang adalah tubuh yang masih di dalam pergulatan dosa dan kedagingan. Karena itu, tubuh materi ini perlu untuk ditebus agar menjadi tempat yang layak bagi manusia baru di sorga kelak.

[1]Pemikiran baik di dalam Yudaisme dan PL bahwa kemuliaan eskatologi akan membawa orang-orang percaya dan seluruh ciptaan menjadi ciptaan yang baru (transfigurasi), meskipun adalah hal yang baru (Rm. 8:18, 21; 1Kor. 15:43; 2Kor. 3:18; 4:17; Flp. 3:21; Kol. 3:4; 1Ptr. 5:1), namun konsep ini sebenarnya sudah diantisipasi di dalam Yesaya 66:19, 22 (S. Aalen, “doxa” dalam NIDNTT 2.44).
[2]Pemahkotaan terhadap manusia hendaknya tidak diasosiasikan dengan konsep antropologi Paulus, yang kemudian memfokuskan kembali kepada penebusan yang hanya bersifat antropologis. Pengasosiasian ini akan mengabaikan pemaparan konsep soteriologi dan eskatologi Paulus di dalam Roma 8:19-22 yang mencakup dimensi kosmik (lih. konklusi John Bolt, “The Relation Between Creation and Redemption in Romans 8:18-27,” CTJ 30/1 [April 1995] 48-51; kontra A. Vögtle, “Röm 8, 19-22: eine schöpfungstheologie oder anthropologisch-soteriologische Aussage?” dalam Me,langes bibliques in hommage au be,da Rigaux [Duculot, 1970] 351-366 yang dikutip [dan disetujui] Moo, The Epistle 517).
[3]Paulus sering memakai terminologi-terminologi apokaliptik Yahudi seperti murka (orgē), kematian (thanatos), kebenaran (dikaiosynē), penghukuman (krisis), dan konflik antara dua zaman (aiōn). Keduanya didominasi oleh penantian panjang dan kerinduan yang amat sangat akan kerajaan Mesias. Keduanya saling membagikan hubungan antara masa lalu Israel dan pengharapan akan janji Allah (Calvin J. Roetzel, The Letters of Paul [Louisville: Westminster John Knox, 1998] 44).
[4]Hahne, Paul’s 7. Meskipun Paulus sering menggunakan simbol-simbol apokaliptik Yahudi bagi pemikirannya, hal ini tidak berarti Paulus menggunakan tulisan apokaliptik sebagai gaya sastranya atau memperlakukan tulisan apokaliptik sebagai sumber utamanya. Paulus sekedar mengambil motif dari tulisan apokaliptik. Paulus “meminjam” beberapa pemahaman dari tulisan apokaliptik untuk menuliskan injil apokaliptiknya, tetapi dia memodifikasinya karena perjumpaannya dengan Tuhan dan karena ada tradisi kekristenan yang mempengaruhinya (J. Christiaan Beker, The Triumph of God [tr. Loren T. Stuckenbruck; Minneapolis: Fortress, 1990] 19-20).
[5]Christopher J. H. Wright, Old Testament Ethics for the People of God (Leicester: InterVarsity, 2004) 133.
[6]Lihat John R. W. Stott, The Message of Romans (BST; Leicester: InterVarsity, 1994) 240.
[7]Moo, The Epistle 518 dan Hahne, The Birth 6. Hahne memberikan tiga dimensi dari pemahaman groaning yaitu: (1) seluruh ciptaan mengeluh sambil menantikan keselamatan dari perbudakan kebinasaan (ay. 22); (2) orang-orang percaya mengeluh sambil menantikan penebusan tubuh mereka (ay. 23; bdk. 2Kor. 5:2, 4); dan (3) Roh mengeluh di dalam membantu orang-orang percaya (ay. 26). Struktur yang sangat teratur ini menekankan solidaritas antara orang-orang percaya dan seluruh ciptaan. Keduanya mengeluh untuk menantikan keselamatan yang sempurna dari kerusakan dunia ini. Sedangkan Roh membantu penantian orang-orang percaya, khususnya di dalam doa-doa mereka.
[8]Karl Barth, The Epistle to the Romans (tr. Edwyn C. Hoskyns; London: Oxford University Press, 1968) 310 kehilangan konteks perikop ini ketika mengatakan bahwa keluhan atau ratapan yang terjadi adalah karena ada yang sengaja menciptakannya (sama dengan pendapat Clarence J. Glacken, Traces on the Rhodian Shore, Nature, and Culture in Western Thought from Ancient Times to the End of the Eighteenth Century [Berkeley: University of California Press, 1967] 163 yang dikutip dari Hahne, The Birth 6 yang mengatakan bahwa keluhan atau ratapan itu adalah bagian dari rencana Allah untuk alam semesta ini dan tidak berhubungan dengan dosa).
[9]Artinya adalah suatu periode akan bencana dan penderitaan kosmik pada zaman akhir yang berfungsi sebagai prelude (pendahuluan) akan kedatangan Mesias (1QH 3:7-18; 1 Enoch 62:4; 4 Ezra 16:37-39; Tg. Ps. 18:4; Tg. 2Sam. 22:5; Midr. Ps. 18:4). Bencana kosmik ini merupakan konsekuensi dari bertambahnya dosa yang manusia perbuat (Hahne, The Birth 10).
[10]Hahne, The Birth 10-11.
[11]Contoh: Yesaya 26:17; 66:8; Yer. 4:31; Hos. 13:13; Mi. 4:9-10; 1 Enoch 62:4; Tg. Ps. 18:4.
[12]LAI kurang memberikan penekanan kepada kata “kita.”
[13]Dunn, The Theology 56. Kata soma dipakai di dalam surat Paulus sebanyak 91 kali, dengan pengertian yang beragam. Ukuran yang biasa dipakai oleh Paulus untuk memakai kata ini, selain tubuh secara fisik, adalah analogi jemaat, khususnya jemaat Kristus (Rm. 12:4-5; 1Kor. 10:16-17; 12:12-27). Analogi tubuh Kristus ini digambarkan di dalam bentuk kosmik dan kesatuan di bawah satu kepala, yaitu Tuhan Yesus sendiri (Ef. 1:23; 2:16; 4:4, 12-16; 5:23; Kol. 1:18, 24; 2:19; 3:15) (L. J. Kreitzer, “Body” dalam Dictionary of Paul 71). Menurut Dunn, kata soma (man’s bodily participation in and with his environment) berbeda dengan kata sarx (man’s belonging to and dependence on that environment and its society). Menurutnya, soma ditransformasikan menjadi baru di mana transformasi ini juga terjadi pada seluruh ciptaan (1Kor. 15:44; Flp. 3:21) (Romans 475). Kata soma memiliki konsep relasional, di mana keberadaan manusia—tidak sekedar fisik, melainkan pribadi—memiliki relasi dengan lingkungan di sekitarnya, dan sebaliknya. Bersama-sama dengan lingkungan ini (seluruh ciptaan), manusia—orang percaya—sedang menantikan penebusan tubuh. Menurut Dunn, “sōma gives Paul’s theology an unavoidably social and ecological dimension” (The Theology 61).

No comments: